Surabaya (beritajatim.com) – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan alasan, mengapa layanan transportasi Bus Trans Jatim Koridor VII tidak diperbolehkan untuk transit dan beroperasi di Terminal Joyoboyo Surabaya, yang berujung pada pengalihan (perubahan) rute operasinya, Senin (14/7/2025).
Semula, Bus Trans Jatim koridor VII ini direncanakan akan melayani rute dari Krembung Sidoarjo menuju Krian, lalu melewati Legundi Gresik, Driyorejo, Karangpilang, dan berakhir di Terminal Joyoboyo. Namun, karena problem perizinan tersebut kini rutenya dialihkan dan hanya akan beroperasi di wilayah Lamongan Selatan menuju Lamongan Utara, melintasi Sukodadi ke Paciran.
Wali Kota Eri Cahyadi menyampaikan bahwa di antara alasannya adalah adanya penolakan dari pengusaha transportasi yang sudah lama beroperasi di Terminal Joyoboyo Surabaya, serta telah terbentuknya ekosistem transportasi kota Wirawiri di lokasi tersebut.
“Kita ini tidak bisa menjagakan itu (Bus Trans Jatim). Jadi kita kemarin koordinasikan, bahwa kalau kita ini (pemkot) ada tempat wirawiri, atau ada trayek lainnya, maka kan kita harus jaga betul. Lha kalau langsung masuk di Surabaya ini, trayek-trayeknya yang di Surabaya seperti apa (nasibnya). Kan kasihan juga,” kata Eri Cahyadi.
Eri juga berpendapat bahwa, setiap moda transportasi yang beroperasi dan masuk ke wilayah kabupaten/kota seharusnya turut menciptakan lokasi transitnya sendiri, sehingga hal itu tidak riskan menimbulkan ketimpangan.
“Maka (rencana bus Trans Jatim VII) itu yang kemarin sempat akan mau masuk di sana (Terminal Joyoboyo) ada Demo kan. Supir-supir yang demo, .akanya tidak bisa masuk ke Joyoboyo,” jelas Eri.
“Seyogyanya, kalau kita ini punya transportasi kan harus ada tempat transitnya, jadi yang di Surabaya ini tetap bisa berjalan. Jangan dimasuki oleh yang langsung dari luar,” imbuhnya.
Hal itu dinilai penting oleh Eri agar warga berprofesi sebagai sopir maupun pengusaha angkutan di Terminal Joyoboyo tetap berpenghasilan dan usahanya tidak sepi.
“Agar apa? Agar semuanya bisa hidup. Supir-supir yang di Surabaya ya hidup, tidak lagi ada yang tidak mendapatkan penghasilan,” tutup Eri.
Diberitakan sebelumnya, layanan transportasi Bus Trans Jatim Koridor VII yang direncanakan melayani rute dari Krembung Sidoarjo menuju Krian, lalu melewati Legundi Gresik, Driyorejo, Karangpilang, dan berakhir di Terminal Joyoboyo ini berubah total, karena tidak diberinya izin transit bus di terminal Joyoboyo Surabaya.
Namun, karena problem perizinan tersebut kini rutenya dialihkan dan hanya akan beroperasi di wilayah Lamongan Selatan menuju Lamongan Utara, melintasi Sukodadi ke Paciran.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jatim, Nyono mengatakan bahwa Koridor VII Surabaya Raya nanti akan sedikit bergeser mungkin ke arah Lamongan.
“Jadi, nanti Koridor VII akan ke arah Lamongan Selatan menuju ke Paciran. Jadi, di situ juga banyak pondok pesantren, banyak kampus dan itu sekarang adalah jalan provinsi,” kata Nyono kepada beritajatim.com.
Pemkot Surabaya yang keberatan Terminal Joyoboyo dimasuki Bus Trans Jatim, kemudian mengarahkan agar berhenti di kawasan Rusun Karangpilang Surabaya.
“Percuma kalau diarahkan ke Rusun, karena nggak ada feeder Trans Jatim seperti layanan Wira Wiri maupun Surabaya Bus yang tidak menjangkau ke sana. Saya pikir nanti jika terjadi, tidak akan efektif untuk mengalihkan penumpang, karena banyak macetnya. Sehingga, nanti secara operasionalnya tidak efektif. Saya kira koridor lebih efektif adalah dari Lamongan Selatan menuju ke Lamongan Utara. Koridor VII ini nantinya akan diluncurkan Oktober 2025, sebagai hadiah Hari Jadi Provinsi Jatim,” pungkasnya. [ram/beq]






