Yogyakarta (beritajatim.com) – Darurat sampah masih terus terjadi utamanya di kawasan Kota Yogyakarta, Bantul, dan Sleman pasca Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Piyungan, Bantul, dilakukan penutupan dan pembatasan.
Meski demikian, akhirnya mau tidak mau, warga dituntut cermat dalam mengelola sampah. Selain itu, akhirnya pemerintah kabupaten dan kota di DIY harus bisa menampung dan mengelola sampah dari masyarakat ini. Terbaru di Kabupaten Sleman, saat ini telah memiliki Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) sampah komunal khusus bagi warga Sleman.
Di TPST Sindu Mandiri, Sinduadi, Sleman, saat ini telah dimulai selain menampung sampah warga, di kawasan ini juga akan dilakukan pengolahan sampah secara komunal.
Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, menuturkan proses pengelolaan sampah terintegrasi di TPST Sindu Mandiri, Sinduadi, ini dimulai dari sampah datang masuk ke adjustable berjalan di atas conveyor, kemudian sampah tersebut akan dipilah oleh tim pemilah.
Sampah anorganik dipilah sesuai dengan karakteristik masing-masing, kemudian hasil pilahan tadi dikemas dengan jenis masing-masing.
Sedangkan sampah organik menghasilkan bubur sampah yang akan dijadikan pakan maggot serta pupuk kompos dan pupuk cair digunakan untuk pertanian.
Pengelolaan sampah organik juga dapat menggunakan lalat Black Soldier Fly (BSF) untuk mendegradasi sampah organik. Maggot sendiri, apabila sudah mencapai waktu panen, dapat digunakan untuk pakan ikan, bebek, dan ternak lainnya.
Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni, Arie Sudjito, menambahkan pengelolaan sampah harus menjadi prioritas. Ia mengatakan kunci dari pengelolaan dan penanganan sampah adalah partisipasi dari seluruh elemen, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.
“Saya berharap warga Sinduadi dan Kabupaten Sleman harus terus berjuang dalam penanganan sampah dan menjadi prioritas seiring dengan perkembangan industri, modernisasi, dan perdagangan agar mencegah risiko kesehatan dan konflik,” jelasnya.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, berharap adanya TPST ini menjadi langkah konkret dan salah satu upaya dalam mengurangi timbulan sampah dengan cara diolah menjadi hal yang bermanfaat.
“Saya sangat mengapresiasi Sinduadi atas inisiatifnya serta menjadi pionir dalam pengelolaan sampah terintegrasi. Saya berharap ini menjadi langkah konkret dalam mengatasi timbulan sampah di Sleman. Saya mengapresiasi Kalurahan Sinduadi karena menjadi pionir dalam pengelolaan sampah terintegrasi, dan ke depan semoga bisa memotivasi seluruh Kalurahan di Sleman untuk bersama-sama mengelola sampah mulai dari tingkat Kalurahan,” jelasnya.
Sebagai langkah jangka panjang, Bupati Pemkab Sleman juga menargetkan penyelesaian pembangunan 2 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) pada tahun ini dengan kapasitas 90 ton sampah per hari. Sedangkan di tahun 2024, kami juga akan membangun 1 TPST dan mendorong revitalisasi Tempat Penampungan Sementara (TPS) 3R serta pengelolaan sampah di tingkat Kalurahan.
“Kami berharap, berbagai upaya pengelolaan sampah ini dapat didukung oleh seluruh elemen masyarakat, baik dari pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat Sleman, dengan mengelola sampah mulai dari tingkat rumah tangga, dengan cara mengurangi produksi sampah serta memilah sampah,” tutup Kustini. [aje/kun]
BACA JUGA: Status Siaga Level 3, Sleman Larang Kibarkan Bendera Merah Putih di Puncak Merapi






