Akhir pekan ketiga Oktober 2025 adalah akhir pekan yang menyebalkan bagi fans sepak bola dua kota yang sudah berikrar menjadi ‘kakak-beradik’, sister city, sejak 19 Maret 2018: Surabaya dan Liverpool.
Bermain di kandang sendiri Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (18/10/2025), Persebaya ditekuk tamunya yang juga rival tradisional Persija Jakarta 1-3. Sementara keesokan harinya, Minggu (19/10/2025), Liverpool ditekuk Manchester United 1-2 di Stadion Anfield.
“Lengkap. Timnas, Persebaya, Liverpool. Ajor,” demikian pernyataan Obed Bima Wicandra, seorang dosen Universitas Kristen Petra di akun Facebook pribadinya.
Obed hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan siaran langsung Persebaya melawan Persija di televisi sebuah warung di kawasan Ngagel bersama teman-temannya. Tidak ada semangat.
Sementara Kukuh Ismoyo mengisi akun Facebook pribadinya dengan umpatan yang tidak layak ditulis di sini. Intinya: Slot Out, Edu Out, Erick Thohir Out.
Liverpool terakhir kalah dari Manchester United di Anfield pada 2016, saat masa awal kepelatihan Jurgen Klopp. Setelah itu, praktis Manchester United di bawah bayang-bayang Liverpool.
Sementara itu, saya tidak ingat kapan terakhir kali Persebaya kalah dari Persija di Surabaya. Memori saya hanya memutar kisah-kisah kemenangan: 3-2 dalam final Perserikatan 1988 di Jakarta, 2-0 dalam pertandingan terakhir Liga Indonesia 2004 di Gelora 10 Nopember Surabaya, dan 4-1 dalam Piala Gubernur Jatim di Sidoarjo pada 2019. Semuanya berujung angkat trofi.
Namun malam itu, 33.432 orang penonton, lima ribu orang di antaranya adalah pendukung Persija, menjadi saksi buruknya penampilan Persebaya. Status tuan rumah tidak membuat Persebaya tampil superior. Semua lini bermain buruk.
Statistik sudah cukup jadi indikator. Dengan penguasaan bola 49 persen, akurasi operan Persebaya hanya 76 persen. Bandingkan dengan Persija yang menunjukkan angka 85 persen (mengindikasikan rapi dan tenangnya serangan Macan Kemayoran).
Persebaya juga hanya melepaskan sembilan tembakan ke gawang Persija yang dijaga Carlos Eduarto. hanya empat tembakan tepat sasaran. Sementara Persija melalui trio Brasil, Maxwell, Gustavo, dan Allano mengacak-acak tembok pertahanan Persebaya yang dijaga duet bek tengah Leo Lelis dan Dime Dimov.
Semua gol Persija melalui skema bola mati. Dua gol yang dicetak Dony Tri Pamungkas pada menit 21 dan Jordi Amat pada menit 45+4 diawali tendangan sudut.
Tragis. Karena berdasarkan statistik Persebaya,id, hanya dua tendangan sudut yang dimiliki Persija dan semua berujung selebrasi yang bikin perih. Menorehkan luka sejarah tak mengucur darah.
Sementara gol ketiga dicetak melalui titk putih pada menit 73 oleh Allano. Sebuah gol yang tak seharusnya terjadi, jika Catur Pamungkas tidak memeluk pinggang Maxwell di kotak penalti bagaikan kekasih yang tak ingin separuh jiwanya pergi.
Satu-satunya gol Persebaya dicetak pemain belakang Leo Lelis pada menit 78, yang malam itu menjadi pemain yang terlihat bermain paling spartan.
Kekalahan Liverpool dan Persebaya menempatkan pelatih masing-masing di bawah mikroskop analitis fans dan pandit. Edu Perez dan Arne Slot sama-sama dianggap gagal menemukan formulasi kemenangan terbaik. Dari dua klub ini, kita belajar bahwa banderol pemain tidak menggaransi kemenangan.
Setelah membawa Liverpool menjuarai Liga Primer 2024-25 dengan skuat yang diwariskan Jurgen Klopp, Slot justru gagal mengeluarkan potensi terbaik para pemain baru yang dibeli dengan harga mahal seperti Florian Wirtz, Kerkez, maupun Alexander Isak. Hanya Hugo Ekitike yang bisa langsung nyetel.
Fans Liverpool mengarahkan tanggung jawab pada Slot yang dinilai gagal memaksimalkan keleluasaan finansial untuk merekrut pemain. Kemewahan yang tidak pernah dimiliki Klopp, yang bisa membawa Liverpool memborong sederet trofi dengan bujet terbatas.
John W. Henry dan Fenway Sports Group yang selalu menjadi sasaran hujatan fans Liverpool karena dianggap pelit pada masa kepelatihan Klopp kini tak tersentuh. Mereka sudah menata finansial klub dengan baik sehingga memungkinkan Slot memburu pemain yang sesuai dengan skema taktiknya. Jika ada persoalan di lapangan, kita tahu ke mana jari telunjuk diarahkan.
Sementara itu, Persebaya masih berkutat dengan persoalan yang sama dari musim ke musim. Belum menemukan pelatih yang punya taktik jitu dan gagal berburu pemain asing dan domestik berkualitas. Dibandingkan dengan klub-klub lain seperti Persib dan Persija, Persebaya seolah tidak punya panduan yang jelas dalam menentukan pemain.
Terakhir, Persebaya mendatangkan Diego Maurício Machado de Brito, seorang pemain Brasil berusia 34 tahun. Posisi: penyerang tengah. Pernah bermain untuk tim Brasil U20. Mulai berlatih di Persebaya sejak akhir Agustus 2025.
Namun Mauricio baru bermain dalam satu dari tujuh pertandingan yang sudah dilakoni Persebaya, yakni saat menjamu Persija. Dia masuk pada menit 70 menggantikan pemain belakang Dime Dimov, saat Persebaya tertinggal 0-2.
Hasilnya? “Kelemon awak,” sergah Kukuh.
Mauricio terlihat susah bergerak lincah. Tubuhnya terlalu gemuk untuk ukuran seorang ujung tombak tajam.
Maka, Kukuh, Obed, atau siapapun pendukung Persebaya, saya kira tidak berharap banyak untuk melihat klub kesayangan mereka bakal merebut gelar juara Super League 2025-26.
Sementara itu, saat Edu Perez masih belum menemukan titik terang memperbaiki performa Persebaya, Arne Slot sudah kembali ke jalur kemenangan dengan mengalahkan Eintracht Frankfurt 5-1 dalam pertandingan ketiga Liga Champions Eropa.
Slot memiliki semua hal untuk mendukungnya, mulai dari finansial, sains, hingga infrastruktur. Kebangkitan hanya soal waktu. Sementara Edu Perez? Semoga doa setulus hati cukup membantunya. [wir]






