Surabaya (beritajatim.com) – Autopsi ulang jenazah korban penembakan Brigadir J turut melibatkan 8 ahli forensik. Satu diantaranya ternyata berasal dari Universitas Airlangga Surabaya. Dia adalah Prof Dr dr Ahmad Yudianto, SpFM (K), SH, M.Kes.
Prof Ahmad merupakan KPS S2 Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana Unair dan Kadep Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Unair. Dia, setidaknya sudah menekuni bidang forensik selama 17 tahun.
Dari banyak pengalamannya di bidang forensik itulah, kini dia dipercaya untuk bergabung dalam mengungkap kasus penembakan tersebut.
Dirinya menyebut, bahwa dalam bidang forensik, kasus semacam ini sebenarnya merupakan hal yang wajar. Dan tentunya hal itu sudah menjadi kewajiban untuk mengungkap kebenaran dalam sebuah tindak pidana.
Ahli forensik, kata dia, memang dilibatkan jika ada kasus tindak pidana terkait dengan nyawa manusia, kesehatan atau tubuh manusia. Dan sesuai peraturan undang-undang kitab pidana, penyidik bisa meminta bantuan kepada ahli, yakni dokter forensik.
Terlepas dari itu, ia berkisah bahwa dalam perjalanan karirnya, ada momen yang cukup menarik. Yakni saat dirinya masih menjadi dokter muda.
[berita-terkait number=”4″ tag=”polisi-baku-tembak”]
Di situ, rupanya ia juga sempat merasa jijik saat harus bersinggungan dengan mayat-mayat yang masih utuh, ataupun yang sudah membusuk.
“Awal mula jadi dokter muda masih ada rasa jijik. Namun lama kelamaan sudah menjadi pekerjaan sehari-hari. Jadi rasa itu sudah hilang,” ungkapnya kepada beritajatim.com, Kamis (4/7/2022).
Ia melanjutkan, saat ini kedokteran forensik juga tidak hanya mengurus jenazah saja, namun juga pada korban hidup seperti kasus kecelakaan hingga kejahatan seksual.
“Kedokteran forensik tidak hanya mengurusi jenazah saja, tapi juga pada korban hidup seperti kasus kecelakaan, kejahatan seksual, perlu permintaan visum, maka itu juga ranahnya kedokteran forensik. Pembuktian-pembuktian ditemukan bercak darah juga ranah forensik,” tandasnya.
Terkait perkembangan hasil otopsi yang diungkap keluarga Brigadir J bahwa jari tangan patah, Prof Ahmad Yudianto mengatakan kepada beritajatim.com untuk menghubungi langsung ketua tim.
“Seperti yang disampaikan ketua tim saat konfrensi pers di Jambi, pemeriksaan laboratium sekitar 2-4 minggu, ditunggu aja, nanti akan ada finalisasi dari tim” pungkasnya. (ipl/ted)






