Surabaya (beritajatim.com) – Peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam menyarankan kepada Sekdaprov Jatim Adhy Karyono yang baru dilantik bisa memainkan jurus Kung Fu Shaolin untuk merangkul faksi tajam di Pemprov Jatim.
[berita-terkait number=”2″ tag=”sekdaprov-jatim”]
“Jurus ini menurut saya ampuh untuk bisa diterapkan di awal-awal menjabat sekda. Ini untuk menciptakan langkah-langkah yang indah, kondusif dan bisa merangkul kekuatan faksi-faksi yang ada menjadi harmoni,” kata Surokim kepada beritajatim.com, Sabtu (16/7/2022).
“Jurus ini sangat dinamis, penuh antisipatif dan juga penuh kewaspadaan. Jurus ini juga berintikan semangat defensif, bukan ofensif dan efektif menghindari kegaduhan. Semangat merangkul untuk berkolaborasi dengan semua stakeholders dan juga penthahelix di Jatim,” imbuhnya.
Dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini juga mengucapkan selamat untuk Adhi Karyono yang telah dilantik menjadi sekdaprov definitif.
“Tugas yang sungguh tidak ringan, berat dan penuh tantangan. Beliau harus bisa memainkan peran sebagai dirigen birokrasi pemprov yang andal dan ciamik. Bisa memainkan jurus-jurus Kung Fu Shaolin yang indah dan kuat guna mendukung program Cettar pemprov sesuai ekspektasi masyarakat,” tuturnya.
Menurut dia, tantangan sekdaprov di tahun politik sungguh tidak mudah, kompleks dan juga rumit. Diperlukan kehati-hatian ekstra. “Sebab bagaimanapun posisi sekda berada dalam wilayah irisan yang tipis antara sebagai birokrat politik dan birokrat profesional. Memadukan dua kepentingan itu sungguh tidak mudah, butuh skill seni tingkat tinggi dengan manajemen kepemimpinan politik tinggi,” jelasnya.
Konteks tahun politik juga menuntut dan membutuhkan kepiawaian dalam mengelola birokrasi, sehingga bandul politik bisa selaras dan fungsional untuk optimalisasi kinerja pemprov dan juga gubernur sebagai user.
[berita-terkait number=”4″ tag=”adhy-karyono”]
Apalagi, lanjut dia, ekspektasi masyarakat kian tinggi saat ini terhadap posisi sekda sebagai dirigen birokrasi pemprov agar selalu sesuai dengan perubahan lingkungan. “Tantangan disrupsi pada semua bidang, khususnya bidang teknologi, regulasi dan juga lingkungan jelas butuh responsivitas dan adaptasi tinggi serta responsivitas dan kecepatan super. Saya pikir itu tantangan yang penting diberikan perhatian. Terlebih lagi konteks birokrasi lokal Jatim yang khas dan unik selalu butuh harmoni dan stabilitas,” ujarnya.
Harmonisasi dengan kalangan legislatif juga tak kalah pentingnya. Menurut dia, harus ada kerja sama dan kolaborasi yang efektif dan lebih berorientasi pada progresivitas dengan inovasi policy, sehingga daya manfaatnya tinggi untuk masyarakat jatim.
“Paling tidak jangan terjebak pada komunikasi yang macet, sehingga menjadi cikal bakal konflik. Harus ada komunikasi yang cair dan komunikatif dan lebih mementingkan semangat kolaboratif sebagai partner untuk saling menguatkan. Hal penting diingat adalah menciptakan harmonisasi untuk meminimalisasi potensi gaduh. Saya pikir itu akan menentukan juga relasi dengan parlemen sebagai partner penting,” tukasnya.

Adanya faksi-faksi yang tajam di pemprov, menurut dia, menjadi tantangan bagi sekdaprov. Dan, jika bisa dicairkan dengan semangat bergandengan dan menguatkan. “Saya pikir semua akan menjadi fungsional dan maslahah untuk pemprov. Disitulah jurus Kung Fu Shaolin bisa dimainkan indah, kuat, dan harmoni,” pungkasnya. (tok/ted)






