Ponorogo (beritajatim.com) – Sebuah retakan tanah dengan panjang mencapai 50 meter dan kedalaman hampir 1 meter terjadi di Gunung Gede Desa Banaran Kecamatan Pulung Ponorogo. Keadaan itu pun mengejutkan masyarakat Dusun Gondangsari yang berada di lereng gunung tersebut.
Bayang-bayang kejadian tanah longsor dahsyat yang terjadi di desa tersebut pada tahun 2017 lalu pun menghantui mereka. Kejadian adanya retakan tanah ini, juga terjadi pasca longsor kecil yang menutup jalur akses antar desa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
“Retakan tanah sepanjang 50 meter ini, tentu mengancam belasan rumah yang ada di sekitar lokasi atau di lereng gunung,” kata Kepala Dusun Gondangsari, Miseri, Selasa (09/01/2024).
Miseri menjelaskan bahwa retakan sebelumnya pernah muncul pada pertengahan tahun 2021 lalu. Namun, hujan deras pada Minggu(7/1) siang menyebabkan retakan tersebut semakin melebar dengan pergeseran sedalam 20 hingga 80 centimeter. “Retakan muncul tahun 2021 lalu, namun kini retakan melebar pasca hujan deras pada hari Minggu (7/1) siang,” katanya.
Sementara itu, salah satu anggota TRC BPBD Ponorogo, Suwito menyatakan bahwa pihaknya bersama petugas gabungan telah melakukan pemetaan di lokasi adanya retakan tanah tersebut. Mereka menemukan retakan yang sudah berbentuk tapal kuda. Tentu pola ini, mengancam setidaknya belasan rumah di sekitarnya. BPBD Ponorogo mengimbau warga untuk segera melakukan pengungsian saat hujan deras, mengingat kondisi lokasi tersebut rawan longsor. “BPBD Ponorogo menghimbau warga untuk mengungsi ke tempat lebih aman,” katanya.
Untuk diketahui, ada 16 rumah dengan 60 jiwa yang terancam akibat retakan itu. Petugas gabungan aktif mendekati warga untuk memastikan evakuasi cepat dilakukan apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi. “Ya jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, warga cepat-cepat mengungsi,” pungkasnya. (end/kun)






