Ngawi (beritajatim.com) – Keberadaan Makam Kertonegoro di Ngawi membuat masyarakat bingung. Ini lantaran makam tersebut diyakini berisi jenazah RMA Kertonegoro, Bupati Magetan.
Padahal, Makam RMA Kertonegoro juga ada di Magetan. Sehingga, keberadaan makam yang sama-sama bernama Kertonegoro ini menimbulkan tanda tanya.
Ada dua versi sejarah yang beredar di masyarakat. Versi pertama, Pemkab Magetan mengklaim Bupati Magetan Kertonegoro (1837-1852) dimakamkan di Sasono Mulyo Sawahan, Kelurahan Kepolorejo, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan. Versi kedua, Pemkab Ngawi mengklaim Bupati Ngawi Kertonegoro (1834-1837) dimakamkan di Desa Sine, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi.
Sementara untuk makam Kertonegoro di Ngawi diklaim sebagai bupati ketiga yang menjabat pada 1834-1837. Sedangkan di Magetan, Kertonegoro diklaim sebagai bupati kesembilan yang menjabat pada 1837-1953.
Pegiat sejarah Ngawi, Agus Fatoni mengatakan, saat ini pemahaman masyarakat sudah rancu. Lantaran, Makam Kertonegoro di Sine terlanjur diklaim sebagai makam Bupati Ngawi ketiga.
Padahal, jelas-jelas Bupati Kertonegoro dimakamkan di Magetan. Bahkan, salah seorang keturunannya sudah menguatkan bukti tersebut.
Baca Juga:
Keturunan Bupati Magetan Kertonegoro Kesulitan Lacak Sejarah
“Nah, ini yang perlu dikaji lagi oleh Pemkab Ngawi. Apakah Makam Kertonegoro di Sine itu benar Bupati Ngawi ketiga yang menjabat di tahun 1834-1837, atau justru makam Kanjeng Tumenggung Arya Kertonegoro, yang di tahun 1750 menjabat sebagai Adipati Gendingan (sekarang Desa Gendingan, Widodaren, Ngawi), yang merupakan salah seorang pejuang melawan VOC,” kata Atong, sapaan akrab Agus Fatoni.
Atong mengamati, ada beberapa literatur yang menyebut Aryo Kertonegoro Adipati Gendingan juga diklaim sebagai Bupati Ketiga Ngawi yang menjabat pada 1834-1837. Dia menegaskan hal itu salah besar karena dari gelarnya saja sudah berbeda, selisih tahun juga nyaris sekitar 84 tahun.
“Literatur Pemkab Ngawi juga ada yang mengatakan bahwa Bupati Ngawi Ketiga adalah Adipati Gendingan Kertonegoro yang merupakan putra dari Pakubuwono II. Ini keliru, karena Bupati Ketiga Ngawi adalah RMA Kertonegoro yang saat itu sudah dibawah pengaruh Belanda untuk memimpin di Ngawi dan kemudian ditugaskan jadi Bupati Magetan,” katanya.
Karenanya, perlu ada diskusi sejarah sekali lagi. Atong mengatakan diskusi ini penting demi keberlangsungan pengetahuan sejarah untuk generasi muda. Terlebih, sudah banyak konten di YouTube dan media sosial lainnya yang sudah terlanjur keliru.
“Ya yang jelas untuk Bupati Ngawi ketiga itu sudah jelas RMA Kertonegoro yang makamnya di Magetan. Sementara yang di Sine ini, kami menduga itu adalah Makam Adipati Gendingan Kertonegoro, yang merupakan salah satu pejuang yang melawan penjajah yakni VOC,” terang Atong.
Baca Juga:
RMA Kertonegoro, Bupati Magetan yang Pernah Jadi Bupati Ngawi
Jika hasil diskusi sejarah ini sudah selesai, maka wajib bagi Pemkab Ngawi untuk memberitahu publik tentang kebenaran Kertonegoro yang merupakan tokoh Ngawi. Bahkan, nama Kertonegoro yang dijadikan nama Terminal Tipe A di Ngawi juga harus dijelaskan.
“Dari tokoh yang mana nama itu diambil. Apakah Adipati Gendingan Kertonegoro atau Bupati Ketiga Ngawi Kertonegoro,” kata Atong.
Terpisah, Juru Kunci Makam Kertonegoro Suyatno (63) mengatakan jika tokoh yang dimakamkan di situ adalah Adipati Kertonegoro yang dulu sempat minggir ke Lereng Lawu. “Wafat di sini dan dimakamkan di sini,” katanya. [fiq/beq]






