Surabaya (beritajatim.com) – Pernah merasakan nyeri haid yang berlebihan, ternyata terjadinya nyeri haid tidak selalu normal loh. Nyeri haid bisa saja menjadi penanda bahwa tubuh kita bermasalah.
Nyeri haid yang berlebihan bisa saja adalah tanda dari adanya Endometriosis atau kista coklat atau kelainan pada endometrium. Endometrium sebenarnya adalah sel yang sangat terpengaruh dengan keadaan hormon dan normalnya tumbuh di sisi dalam rahim.
Endometrium sendiri berfungsi sebagai pelapis yang berada di sisi dalam rahim agar otot otot rahim tidak saling menempel yang juga sekaligus sebagai tempat implantasi janin apabila terjadi kehamilan.
Dokter Relly Yanuari Primariawan SpOG(K), dr Hari Nugroho SpOG, dan dr Henky Mohammad M SpOG dari Gynecologic Minimally Invasive Treatment Surabaya (GMITS) menjelaskan, pada pasien dengan endometriosis, sel endometrium Iepas dari rahim, menempel di tempat lain dan tumbuh.
\\\”Lokasi yang paling sering terjadinya endometriosis ada tiga, ovarium (indung telur), cavum douglas (cekungan antara vagina dan rektum), dan di dalam rongga panggul,\\\” kata Hari Nugroho sambil menunjukkan gambar sistem reproduksi wanita kepada beritajatim.com, Rabu (26/12/2018).
Ciri-ciri terjadinya endometriosis biasanya adalah nyeri saat menstruasi dan mengakibatkan reaksi radang di sekitar lokasi tumbuhnya sehingga terjadi perlekatan. Perlekatan itu sering menyebabkan buntunya saluran tuba, yaitu penghubung antara rahim dan indung telur sehingga sulit hamil
Selain nyeri saat haid, Hari mengatakan, 70 persen nyeri juga terkadang terjadi saat berhubungan suami istri serta ditandai dengan sulit memiliki keturunan. \\\”Akan tetapi, 25 persen pasien dengan endometriosis tanpa keluhan. Kondisi itu memang sering membingungkan. Pasien seperti biasanya datang ketika mereka sudah menikah lama namun tak kunjung dikaruniai keturunan,” katanya.
Oleh karena itu dalam usia pernikahan satu tahun, dengan hubungan suami istri yang terhitung sering, tetapi belum juga dikaruniai keturunan, sebaiknya segera ke dokter. Karena sel telur memiliki rentang waktu subur dan aktif sebelum usia 35 tahun. \\\”Kalau bisa, sebelum usia 35 tahun karena sel telur ini cepat habis dan ada masanya,\\\” tuturnya.
Henky Mohammad menambahkan, mendeteksi endometriosis memang tidak cukup dengan tanda rasa sakit saat haid. Perlu USG bila belum menikah dan USG transrektal atau transvaginal bagi yang sudah menikah. Selain itu, bisa juga dengan MRI.
\\\”Minimal USG perut. Kalau tidak ada kelainan, bisa MRI meskipun cukup mahal. Jika mengeluh sakit hebat saat haid serta dianggap endometriosis dan diberikan obat-obatan menekan hormon, ini namanya presumtif diagnosis. Jika dengan obat-obatan itu membantu menghilangkan nyeri, berarti benar endrometriosis. Pengobatan terus dilakukan sampai dia berencana menikah atau ingin hamil,\\\” terangnya.
Endometriosis adalah jenis penyakit gangguan kesuburan, yang progresif dan kronis (menahun) sehingga memerlukan pengobatan jangka panjang. Karena dipengaruhi hormon estrogen, maka itu akan sembuh seiring dengan berhentinya menstruasi atau menopause.
Endometriosis juga tidak bisa sembuh total meski sudah dilakukan operasi. Pasien endometriosis yang berhasil hamil, akan sembuh saat hamil. Usai melahirkan, endometriosis bisa kambuh lagi.
Untuk itu Relly menyarankan agar sesudah melahirkan, pasien endometriosis harus tetap mengonsumsi pil KB untuk menekan hormon estrogen. Bagi pasien endometriosis yang ingin memiliki keturunan ada tiga cara, yaitu melalui obat-obatan, operasi laparoskopi, dan bayi tabung. [kun]





