Pamekasan (beritajatim.com) – Legislator Pamekasan Suli Faris menilai branding batik di sejumlah mobil dinas (mondin) Pemkab Pamekasan bukan terobosan yang bisa mengangkat dan mempopulerkan batik khas daerah berslogan Bumi Gerbang Salam.
Hal itu disampaikan menyusul kebijakan pemerintah yang membranding batik melalui sarana transportasi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan pemkab Pamekasan, bahkan sebagian mobdin dengan nuansa batik mulai berlalu lalang, termasuk mobdin Bupati Badrut Tamam.
\\\”Mungkin kami termasuk dari sekian banyak orang yang tidak setuju dengan branding batik di mobil dinas, kami melihat itu hanya kreasi seni dan bukan terobosan yang mengangkat batik Pamekasan untuk bersaing di pasaran. Seperti batik Solo, Pekalongan ataupun Yogyakarta,\\\” kata Suli Faris, Senin (17/12/2018).
Pihaknya menilai branding yang dibutuhkan seharusnya mengarah pada orientasi konkret agar batik Pamekasan bisa dipasarkan di berbagai tempat, sekaligus laris manis diminati masyarakat khususnya para pecinta batik. \\\”Semestinya saat ini mencari cara bagaimana batik Pamekasan bisa dipasarkan dan laris di pasaran,\\\” ungkapnya.
\\\”Dari itu, yang sangat dibutuhkan sebenarnya adalah jaringan pasar. Seperti di sejumlah mall, semisal di TP (Tunjangan Plaza) Surabaya. Hal itu bisa ditiru untuk mempromosikan batik Pamekasan, agar bisa bersaing dengan berbagai jenis batik yang sudah dikenal dalam skala nasional,\\\” imbuhnya.
Di berbagai mall terdapat galeri batik yang justru didominasi batik di luar Madura, hal itu harus dijadikan pertimbangan mempromosikan batik khas Pamekasan. \\\”Awalnya tren batik yang memfasilitasi adalah pemerintah, seperti batik Solo yang ada di mall Surabaya. Sehingga bisa ditiru untuk mempromosikan batik Pamekasan, agar bisa bersaing dan laris manis di pasaran,\\\” jelasnya.
\\\”Hanya saja hal itu butuh pembinaan, belum lagi branding batik di mobil dinas (pemkab Pamekasan) juga tidak sesuai dengan karakter batik khas Pamekasan. Bahkan cenderung seperti batik luar (Pamekasan),\\\” sambung politisi yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Pamekasan.
Dari itu pihaknya menegaskan tidak cukup mempromosikan batik hanya melalui branding di mobdin yang notabene hanya berlalu lalang di area Pamekasan dan sekitarnya. \\\”Sehingga perlu terobosan gila-gilaan pasarkan batik di luar Madura, apalagi di Madura sendiri pasar batik kita justru masih kalah dengan Bangkalan, apalagi Jawa Tengah. Bahkan di Jakarta justru batik asal Jawa Tengah yang bersaing,\\\” pungkasnya. [pin/but]





