Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto tampil dalam program podcast di kantor Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Jember, Jawa Timur, dengan mengenakan pakaian daerah berwarna hitam dikombinasi dengan sarung, dan memamerkan tato di betis kirinya, Kamis (1/6/2023).
Hendy datang ke kantor PWI Jember dengan ditemani istrinya Kasih Fajarini, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Bobby Arie Sandi, dan dua anggota tim ahli Muhammad Iqbal dan Kris Hendrijanto. Bersama Ketua PWI Jember Sugeng Prayitno, Wakil Ketua PWI Jember Yakub Mulyono, dan seniman Wijaya alias Cak Londo, ia memperbincangkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan dan renovasi alun-alun.
“Pakaian ini perpaduan adat Jawa dan Madura, dan untuk desain oblang (semacam topi tradisional) khas desain karya Seni Jember Fashion Carnaval,” kata Hendy kepada wartawan yang hadir.
Pakaian tersebut juga dikenakan Hendy saat upacara peringatan Hari Pancasila di alun-alun. “Ini Jember beneran. Ini Pak Sakera (nama tokoh legendaris masyarakat Madura). Jember ada kolaborasi Jawa dan Madura. Saya lengkapi untuk mempresentasikan hal itu semua,” katanya.
Sementara itu gaya oblang menunjukkan Jember adalah tempat seui budaya. “Oblang kita bermacam-macam, menunjukkan Jember tempatnya seni. Kawan-kawan Jember punya kreativitas inovasi bermacam-macam. Oblang kita bermacam-macam, menunjukkan kreativitas Jember. Kita punya Jember Fashion Carnaval. Di situ punya kekuatan bermacam-macam seni,” kata Hendy.
Hendy lantas memamerkan gambar tato di betis kirinya dan gelang yang dipakainya di pergelangan tangan kanan. “Ini hasil karya pelukis usaha mikro kecil menengah di alun-alun. Keren. Cuma Rp 200 ribu. Gelang tasbih ini buatan UMKM Balung. Lengkaplah sudah pakaiaan bupati Jember, tak beda jauh dengan tempat display produk kearifan lokal,” katanya tertawa.
Hendy menyebut tato lukis itu menunjukkan keindahan. “Ini seni, bahwa kita bisa membuat desain bagus yang mempunyai nilai ekonomi. Kalau kita melukis bagus, bisa dibuat untuk tampilan dalam kegiatan-kegiatan tertentu,” katanya.
Tato itu sempat ditanyakan Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman. “Itu permanen, Pak?” tanya Firjaun, ditirukan Hendy.
Hendy pun tertawa. “Tidak, Gus. Ini mudah dihapus,” katanya.
Dalam program podcast tersebut, Hendy bercerita bagaimana kerasnya perjuangan jajaran organisasi perangkat daerah unuk bisa meraih opini wajar tanpa pengecualian dari BPK. “Ada Rp 3,4 triliun aset Pemkab Jember yang belum memiliki dokumen sejak 20 tahun lalu hingga tahun 2020,” kata Hendy.
Temuan ini, menurut Hendy, mengunci kemungkinan Pemkab Jember mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) jika tak segera diselesaikan. ” Maka kami kumpulkan semua teman OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Bukan hanya kepala dinasnya, tapi semua mulai dari eselon 2, 3, 4 dan staf yang mengerjakan masalah aset,” katanya.
Hendy memberikan waktu tiga pekan kepada seluruh ASN untuk menyelesaikan persoalan dokumen aset itu. “Dokumen aset itu harus ditemukan. Ada regulasi, yang seandainya aset itu ditemukan, mengizinkan kita untuk melapor ke polisi dan menghapusnya,” katanya.
Hendy tidak main-main dalam urusan ini. “Kalau tiga minggu tidak selesai, seluruh TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) saya cabut semua. Saya bilang teman-teman, saya siap digugat (jika ada yang mempersoalkan kebijakan pencabutan TPP). Kami tunggu. Pokoknya harus jadi (selesai). Saya tidak mau uang negara Rp 3,4 triliun dokumennya tidak ada. Dokumennya harus ada. Kalau tidak ada, ada tempat pengaduan yakni ke aparat penegak hukum,” katanya. [wir]






