Jember (beritajatim.com) – Sebanyak 2.282 orang warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan berangkat ke Tanah Suci Mekah untuk menunaikan ibadah ibadah haji tahun ini. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember menyelesaikan seluruh paspor jemaah calon haji hari ini.
“Insya Alah kami sudah siap dari sisi administrasi dan manasik haji. Insya Allah terkait kloter (kelompol terbang) dan pra manifesnya hari ini kami sampaikan ke Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Timur,’ kata Kepala Kantor Kementerian Agama Jember Akhmad Sruji Bahtiar, Rabu (31/5/2023).
Jemaah haji asal Jember berada di Kloter 55, 56, dan 57 yang berangkat ke Surabaya pada 13 Juni 2023. Sementara jemaah di Kloter 66, 67, 68, 69 masuk ke Asrama Haji di Surabaya pada 17 Juni 2023 dan berangkat ke Jeddah pada 18 Juni 2023.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkab Jember Achmad Musoddaq siap menyediakan transportasi dan hal-hal lain di luar teknis haji untuk para jemaah. “Kami menyampaikan kepada biro bus, sesuai arahan, agar menyediakan bus yang ada toiletnya. Cuma tidak bisa semua terpenuhi. Jadi ada bus yang bertoilet dan ada yang tidak. Tapi semuanya bus pariwisata,” katanya.
Bagian Kesra juga menyediakan 250 pak pampers lansia. “Ini arahan Komisi D DPRD Jember tahun kemarin. Kami masih ingat dan laksanakan,” kata Musoddaq.
Keberangkatan jemaah di enam kloter ini akan dibagi di sejumlah titik. Lokasi titik kumpul di KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) masing-masing kecamatan. “Tanggal 13 Juni jam satu dini hari, berkumpul di Balai Serba Guna. Kemudian jam dua harus ditarik ke pendapa, karena akan dilepas bupati di pendapa dan akan masuk Asrama Haji Sukolilo pada pukul delapan pagi. Salat subuh di Masjid Agung Surabaya,” kata Musoddaq.
Ketua Komisi D DPRD Jember Hafidi mengatakan, sempat ada keluhan soal dokumen paspor sejumlah calon haji yang belum selesai. “Banyak yang belum menerima paspor dan visa,” katanya. Komisi D pun memutuskan melakukan koordinasi hari ini dengan Kementerian Agama.
Sruji mengakui sempat ada persoalan pengurusan paspor sebagian calon haji. “Alamatnya tidak lengkap, sehingga kami harus mencari. Kedua, jemaah haji Jember ini ada yang ikut kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah dan ada yang mandiri. Nah, yang mandiri ini yang agak sulit mendeteksinya. Maka kami berkoordinasi dengan KUA (Kantor Urusan Agama),” katanya.
“Jadi kalau ada keterlambatan (jemaah haji) mandiri dalam pembuatan paspor, itu semata-mata karena kami kesulitan mendeteksi tempat tinggalnya. Tidak banyak sebenarnya. Tapi dapat dikatakan menganggu juga, agak memperlambat,” kata Sruji.
Hafidi lega Kemenag merespons cepat persoalan tersebut. “Alhamdulillah, hari ini Kementerian Agama akan menyelesaikan seluruh sisa paspor jemaah haji,” katanya.
Hafidi berharap layanan kepada para jemaah di Mekah benar-benar maksimal. “Yang berangkat tahun ini adalah para jemaah lanjut usia. Ini rentan dengan kondisi dan iklim serta teknis haji di Mekah, sehingga ada kebijakan pemerintah untuk menyediakan pendamping bagi jemaah yang rentan,” katanya.
Sri Winarni, anggota Komisi D dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, setuju ada pendamping bagi jemaah lansia. “Pendamping memang perlu. Saya saja kemarin, saat manasik, menuntun (jemaah lansia). Ada ibu-ibu yang agak sakit, janda, dan tidak bawa keluarga,” katanya, dalam rapat dengar pendapat di ruang komisi dengan Kemenag Jember.
Jemaah haji yang lanjut usia disebar ke semua regu dan rombongan agar tidak terkonsentrasi di rombongan dan regu tertentu. “Di sisi lain, kami berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Jember soal fasilitas perjalanan dari Jember ke Asrama Haji supaya betul-betul maksimal, termasuk ada usulan agar di setiap bus yang digunakan ada fasilitas toilet,” kata Sruji.
Sruji berjanji melakukan perbaikan-perbaikan semaksimal mungkin. “Soal pendamping, insyaallah semua kantor Kementerian Agama seluruh Jawa Timur merasakan juga. Nanti kami akan sampaikan. Kami berharap dukungan DPRD Jember untuk menyampaikan soal pendamping, karena sangat dibutuhkan,” katanya.
Sruji mengakui, layanan pendamping belum maksimal karena tidak adanya ikatan psikologis antara jemaah dan pendamping. “Ketika jemaah haji mau bio visa, kami tuntun juga,” katanya.
Winarni menyarankan kepada keluarga calon haji lansia yang dalam kondisi kurang fit agar mencari teman atau membayar seseorang untuk menemani. Sruji akan menyampaikan usulan tersebut kepada para jemaah. “Bisa jadi nanti walinya atau menunjuk (seseorang mendampingi) atau KBIUH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah) berkoordinasi dengan jemaah atau ahli warisnya,” kata Sruji. [wir]






