Surabaya (beritajatim.com) – Masyarakat Jawa memiliki tradisi yang sangat banyak dan beragam. Salah satunya adalah nyadran, tradisi dalam rangka menghormati leluhur.
Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan bersama masyarakat setempat, melakukan nyadran di Makam Nyai Andongsari.
Acara ini menjadi tradisi tahunan masyarakat setempat yang juga masuk dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Lamongan ke-454.
Baca Juga: Rayakan HUT ke-17, Beritajatim.com Serahkan Penghargaan Jatim PR Award 2023
Namun, tahukah kita mengenai tradisi nyadran yang dilakukan oleh masyarakat Jawa tersebut. Simak ulasan berikut ini.
Apa Itu Nyadran
Nyadran adalah tradisi Jawa yang dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada leluhur dan nenek moyang.
Tradisi ini melibatkan serangkaian upacara, lagu, tarian, dan perayaan bersama. Nyadran biasanya diperingati oleh masyarakat lokal dalam suasana kekeluargaan dan kebersamaan.
Nyadran sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan untuk menghormati leluhur, yakni dengan cara pembersihan makam.
Biasanya nyadran dilakukan dengan rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan kenduri atau selamatan di makam leluhur.
Baca Juga: 5 SMA Terbaik di Gresik Berdasarkan Nilai UTBK, Nomor 1 Ternyata Sekolah Ini
Sejarah Nyadran
Sejarah tradisi nyadran dapat ditelusuri kembali ke masa kejayaan kerajaan Mataram pada abad ke-8.
Awalnya, Nyadran merupakan ritual keagamaan yang diadakan di kompleks pemakaman kerajaan untuk memperingati arwah para raja dan bangsawan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini menyebar ke berbagai daerah di Jawa dan mengalami perubahan dalam pelaksanaannya.
Makna Nyadran
Nyadran memiliki makna filosofis dan spiritual yang dalam. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati leluhur, memperkuat hubungan antaranggota masyarakat, dan menjaga kesinambungan roh yang ada.
Melalui Nyadran, selain dalam rengka menghormati leluhur, masyarakat juga diingatkan akan nilai-nilai gotong royong, saling menghargai, dan persatuan.
Baca Juga: Lamongan Gelar Nyadran di Makam Dewi Andongsari, Ibunda Maha Patih Gajah Mada
Makanan Tradisional Nyadran
Selama perayaan nyadran, masyarakat juga menyajikan makanan tradisional khas. Beberapa di antaranya adalah nasi tumpeng, jenang nyadran, jenang abang, jenang grendul, pecel, dan lainnya.
Makanan-makanan ini melambangkan rasa syukur nikmat atas kelimpahan rezeki dan dianggap sebagai anugerah dari Tuhan dan mendoakan leluhur.
Ritual tradisi nyadran ini biasanya dilakukan dengan ciri khas yang berbeda-beda setiap daerah. Namun pada dasarnya sama-sama untuk menghormati leluhur. (ian)






