Surabaya (beritajatim.com) – Program Studi Information Systems for Business (Prodi ISB) Universitas Ciputra Surabaya menggelar Event International Enterprise Resource Planning Competition (EPIC) 2023. Di situ para peserta saling berkompetisi untuk mengembangkan bisnis.
Pada tahun pertama EPIC ini, total peserta ada 39 tim. Masing-masing tim minimal beranggotakan 3 orang. Mereka merupakan mahasiswa dari sejumlah kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Yogyakarta ,Kalimantan. Bahkan, ada yang berasal dari Hongkong dan Malaysia.
Ketua Prodi ISB Adi Suryaputra Paramita mengatakan, dalam ajang tersebut tiap peserta ditantang menyelesaikan kasus, seperti mengelola sebuah pabrik minuman, kemudian mengelola usaha mulai dari ritel hingga akhirnya dapat melakukan produksi sendiri.
BACA JUGA:
19 Dokter Baru Universitas Ciputra Surabaya Diharapkan Mampu Ciptakan Inovasi di Bidang Sosial
“Peserta mengerjakan tantangan menggunakan platform Monsoon Simulation. Platform tersebut membuat peserta bisa belajar bisnis proses dan sistem informasi dalam sebuah perusahaan berskala besar,” ujar Adi, Jumat (19/5/2023).
Ia menambahkan, peserta secara berkelompok akan berbagi tugas untuk menjalankan sebuah perusahaan yang berada di sejumlah lokasi. Nah, di situ peserta akan mendapatkan pengalaman secara teknis mengelola perusahaan berbasis teknologi dan juga bagaimana bekerjasama dalam membangun perusahaan.
“Kita mengangkat topik yang berorientasi masa depan, dimana memungkinkan untuk membuka usaha multi lokasi dan multi negara. Peserta yang mengikuti akan mendapat gambaran bahkan bisa terdorong untuk nantinya menjalankan bisnis ini,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Universitas Ciputra Surabaya Latih Cak Ning Surabaya Table Manner
Adi berharap, dengan mengikuti EPIC ini generasi muda di Indonesia bisa siap menghadapi masa depan dimana sistem informasi terintegrasi dan teknologi akan menjadi kunci utama pengembangan sebuah usaha menjadi semakin besar.
“Melalui EPIC ini juga generasi muda bisa mendapatkan bayangan bagaimana mengelola sebuah usaha yang berada di berbagai lokasi dengan dukungan teknologi untuk akhirnya dengan adanya sistem informasi terintegrasi ini usaha tersebut bisa menjadi semakin besar tetapi tetap dapat diawasi oleh pemiliknya,” pungkas Adi. [ipl/suf]






