Surabaya (beritajatim.com) – Dari perspektif gender, pemilihan umum presiden-wakil presiden (Pilpres) 2024 tak banyak politikus, kaum profesional, tokoh masyarakat, birokrat karir, aktivis lembaga swadaya masyarakat, dan lainnya yang bergender wanita. Di antara yang sedikit itu, nama Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, disebut-sebut oleh sejumlah lembaga survei yang kredibel sebagai salah satu figur politikus wanita yang berpeluang masuk ke bursa pilpres.
Di sejumlah survei, Khofifah masuk sebagai kandidat wapres selain sejumlah politikus, businessman yang menjabat menteri, dan tokoh masyarakat lainnya. Misalnya, Erick Thohir (Menteri BUMN), Sandiaga Uno (Menparekraf), Ridwan Kamil (Gubernur Jabar), Jenderal (Purn) Andika Perkasa (mantan Panglima TNI), Machfud MD (Menko Polhukam), Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian dan Ketua Umum Partai Golkar), dan lainnya.
Masuknya nama Khofifah di bursa Pilpres 2024, khususnya untuk posisi bakal cawapres, tak mungkin dilepaskan dari track record dan pengalaman politik dan sosial yang bersangkutan. Dia terjun di ranah politik praktis sejak awal 1990-an, ketika pertama kali terpilih sebagai anggota FPP DPR RI. Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) meniti karir di jalur politik dengan tekun, sabar dan istiqomah.
Ketika era dan lingkungan politik berubah drastis pada 1998, sebagai aktivis organisasi di bawah payung Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah melabuhkan kiprah politik di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tak lama kemudian, ketika terjun di Pilgub Jatim 2008, Khofifah telah lepas dari baju politik parpol mana pun. Dia menjabat Ketua Umum PP Muslimat NU, organisasi ibu-ibu di kalangan Islam Tradisional (NU).
Tiga kali terjun di gelanggang Pilgub Jatim (2008/2009, 2013, dan 2018), tentu memberikan banyak pengalaman politik tersendiri bagi Khofifah. Dia memiliki energi, ketahanan (endurance), kematangan fisik dan mental, dan akseptabilitas politik kuat untuk bisa melakoni perjuangan politik kontestasi yang berat tersebut.
Khofifah politikus yang tak kendor menghadapi kontestasi politik apa pun. Fighting spiritnya tak gampang kendor dan lemah ketika menghadapi kenyataan pahit yang paling menyakitkan sekali pun. Dia terus bangkit dan mampu menjaga spiritnya tetap tinggi menapaki jalan politik yang terjal.
Baca Juga:
Khofifah Usulkan Pengangkatan 6 Ribu Guru Honorer Lolos Passing Grade Jadi PPPK
Nyaris tak ada politikus bergender wanita di Indonesia dengan political endurance yang kuat seperti Khofifah. Di ajang Pilgub Jatim 2008/2009, dia melakoni tiga babak putaran pilgub dan raihan suaranya berbeda tipis dengan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang tampil sebagai the winner.
Di Pilgub Jatim 2013, Khofifah bertandem dengan Irjen Pol Drs Herman S Sumadiredja, mantan Kapolda Jatim. Pasangan ini belum beruntung. Baru di Pilgub Jatim 2018, Khofifah yang bertandem dengan profesional-intelektual muda, Emil E Dardak, mampu memenangkan kontestasi Pilgub Jatim, mengandaskan duet Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarnoputra.
Selain Khofifah, belum ada politikus dan tokoh nasional bergender wanita yang disebut-sebut berpeluang masuk bursa Pilpres 2024, termasuk untuk peluang dijagokan sebagai bakal cawapres. Sempat mencuat nama Puan Maharani, anak Taufik Kiemas (almarhum) dan Megawati Soekarnoputri. Dia berlatar poros ideologis Nasionalisme Soekarnoisme dan kini menjabat Ketua DPR RI dan salah satu Ketua DPP PDIP.
Seiring dengan keputusan PDIP menjagokan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, sebagai bakal capres, nama Puan Maharani mulai meredup. Keputusan Megawati mengajukan Ganjar mengakhiri spekulasi politik yang berkembang sekitar setahun terakhir tentang bakal kandidat presiden yang diusung partai ini.
Saat ini, tampaknya, nama Khofifah menjadi satu-satunya politikus, tokoh nasional, dan aktivis sosial kemasyarakatan bergender wanita yang berpeluang masuk Pilpres 2024. Namanya kini melambung di jagat media massa dan media sosial sebagai bakal cawapres. Sekali pun sampai sekarang kita belum pernah mendengar kesediaan dan kata putus dari Khofifah untuk melakoni kontestasi politik tersebut.
Khofifah yang berlatar belakang aktivis NU, khususnya organisasi Muslimat, di mana dia beberapa periode dipercaya dan dipilih sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU, berkat kinerja, kapasitas, akseptabilitas, dan integritasnya telah menempati posisi figur politikus dan aktivis sosial kemasyarakatan di jagat nasional. Tak heran namanya disebut-sebut dan layak dimasukkan dalam bursa Pilpres 2024.
Baca Juga:
Ambil Sumpah Jabatan 1.450 ASN, Khofifah Tekankan Pentingnya Core Values
Jam terbang dan pengalaman di ranah pemerintahan dan legislatif, integritas pribadi, dan sikap istiqomah sebagai aktivis NU (Muslimat) menjadikan Khofifah memiliki kavling pendukung tradisional yang kuat, mapan, dan tersebar luas. Sehingga tak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa Khofifah merupakan representasi terkuat politikus dari komunitas Islam, khususnya Islam Tradisional (NU) di Indonesia sekarang.
Apakah Pilpres 2024 bakal diwarnai dengan tampilnya kandidat bergender wanita? Jika yang benar-benar ada politikus atau tokoh nasional bergender wanita masuk bursa pilpres, hal itu diekspektasikan bisa mengurangi hawa sumuk dan panas kontestasi politik ini. Pilpres 2014 dan 2019 menyuguhkan pola pertarungan head to head dan minus kandidat wanita di dalamnya. Dua kali pilpres terakhir mengakibatkan fragmentasi sosial dan politik cukup dalam, sehingga membutuhkan tempo lama proses recovery-nya. ‘
Besar kemungkinan Pilpres 2024 bakal menyuguhkan pola pertarungan yang berbeda dibanding Pilpres 2014 dan 2019 serta menghadirkan pelaku politik yang lebih berwarna dari perspektif latar profesi dan latar gender. Sehingga iklim lingkungan politik Pilpres 2024 tak sesumuk dan sepanas Pilpres 2014 dan 2019. [air]






