Surabaya (beritajatim.com) – SCCC turut mengomentari aksi dua kasus kekerasan seksual yang terungkap di Surabaya selama seminggu terakhir. Surabaya Children Crisis Center yang diketuai Sulkhan Alif mendesak agar pihak kepolisian segera menangkap pelaku.
Dihubungi Beritajatim.com, Alif mengatakan jika kekerasan anak di kota Surabaya masih menjadi yang tertinggi nomor dua dengan 180 kasus di tahun 2022. Dibawah Jember (201 kasus) dan di atas Kabupaten Sidoarjo (167 kasus), Kabupaten Malang (123 kasus) dan Kota Malang (106 kasus).
“Ini kan miris, kita mendapat predikat kota layak anak, namun angka kekerasan seksual kepada anak masih nomor dua di Jawa Timur,” ujar Alif, Kamis (04/05/2023).
Alif menjelaskan, tingginya angka kekerasan seksual kepada anak dipengaruhi oleh 3 faktor utama. Pertama, pendidikan seks edukasi yang melibatkan lembaga pendidikan dinilainya masih kurang. Kedua, faktor orang tua yang kalah pintar dengan anak saat berselancar di internet. Terakhir, kurangnya peran orang tua dalam memperhatikan tumbuh kembang anak.
Ketiga faktor diatas, membuat anak rentan untuk menjadi korban kekerasan seksual. Alif menjabarkan, ketika di dalam sekolah edukasi seks masih dianggap tabu, maka rentan bagi korban tidak berani berbicara karena menganggap jika saling memegang adalah kenakalan anak-anak biasa.
“Selain itu, pendidikan itu kan juga dari orang tua. Peran orang tua bukan hanya menafkahi. Memberi makan atau menyekolahkan lalu anak tidak diperhatikan tumbuh kembangnya. Banyak orang tua ketika sudah dirumah asyik dengan handphonenya sendiri. Sedangkan anak juga sibuk dengan gadgetnya. Nah ini yang membuat orang tua kadang lengah memperhatikan anaknya,” imbuh Alif.
Alif lantas membahas pentingnya peran Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang digaungkan oleh dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak serta pengendalian penduduk dan keluarga berencana (DP3APPKB) kota Surabaya untuk menekan angka kekerasan seksual. Karena, menurut Alif, di puspaga orang tua akan mendapatkan edukasi lebih untuk memperhatikan anaknya agar tidak menjadi korban kekerasan anak.
“Kalau puspaga itu bisa sampai di tingkat RW saya yakin 2-5 tahun kedepan angka kekerasan seksual di Surabaya turun drastis. Karena pengawasan dan edukasi kita sampai ke titik terbawah. Ini membuat masyarakat juga ambil peran. Tidak bisa kita hanya menyalahkan pemkot. Saya rasa programnya sudah baik, tinggal implementasi ke bawah,” tegasnya.
Selain itu, Alif juga menyinggung untuk regulasi pemulihan bagi korban kekerasan seksual anak-anak. Baginya, saat ini regulasi hanya mengatur tentang bagaimana pelaku kekerasan seksual anak mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun, untuk pemulihan korban regulasinya cukup minim.
“Di dalam UU anak itu kan diatur rehabilitasi terhadap pelaku. Untuk korban tidak pernah diatur dalam UU. Nah ini harus diperhatikan juga. Ketika perkara selesai, trauma korban kan belum selesai. Itu yang harus dipikirkan kedepannya. Beberapa perkara yang saya dampingi, anak-anak ini tidak diterima di lingkungan, bahkan orang tuanya sendiri. Itu harus dipikirkan karena beban korban pasti lebih berat dari pelaku,” pungkas Alif.
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/peristiwa/rombongan-guru-pengabdian-gontor-kecelakaan-3-meninggal/
Perlu diketahui, Dalam seminggu, terungkap dua kasus kekerasan kepada siswi SMP di Surabaya. Kedua kasus itu kini tengah didalami oleh pihak kepolisian.
Kasus pertama terungkap usai Anggota Komisi A DPRD Imam Syafi’i mendapatkan laporan adanya persetubuhan terhadap siswi SMP di Bubutan. Korban mengaku dicekoki miras terlebih dahulu sebelum disetubuhi oleh 3 pemuda yang diketahui berumur anak-anak juga. Kini, korban harus mengandung selama 5 bulan akibat perbuatan bejat 3 orang itu.
Korban lantas melaporkan peristiwa pemerkosaan yang terjadi pada Desember 2022 lalu itu ke Polrestabes Surabaya, Kamis (27/04/2023) kemarin. “Yang dua pelaku sudah tertangkap, namun untuk yang satu masih kabur ke luar kota. Kami masih melakukan pengejaran,” ujar Kasubnit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, Ipda Tri Wulandari.
Selang beberapa hari, pada hari Sabtu (29/04/2023) seorang siswi SMP di Surabaya Barat melaporkan aksi pemerkosaan yang diterima usai berkenalan dengan seorang pria di media sosial. Selain diperkosa, korban juga mengalami perampasan uang dan handphone oleh pelaku.
Pelaku mengawalinya dengan mengirim pesan melalui DM di instagram korban. Kemudian, pelaku mengaku ingin kenal lebih dekat dengan korban. Termakan bujuk rayu, Korban lantas bertukar nomor Whatsapp (WA) dengan pelaku. Sejak itu korban dan pelaku sering chatting sebagai teman.
Setelah sekian lama berkenalan, pada Jumat (28/04/2023) pagi pelaku mengajak korban berjalan-jalan. Pelaku menggunakan sepeda motor menjemput korban ke rumahnya di kawasan Surabaya Barat. Korban lantas dibawa ke Tretes lalu disetubuhi disana. Saat pulang pun, bukannya diantar kembali ke rumah, namun diturunkan di Jalan Margomulyo. Korban lantas meminta pertolongan kepada warga sekitar untuk menghubungi orang tuanya karena handphone dan uang korban dirampas pelaku. (ang/kun)






