Banyuwangi (beritajatim.com) – Tari mistis Seblang Olehsari merupakan sebuah tradisi milik warga Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tradisi ini memiliki magis dan nilai daya tarik tersendiri.
Tampil setiap lebaran, tari Seblang Olehsari menjadi ritual resmi warga setempat. Tarian akan dimulai setiap sang penari telah kerasukan roh leluhur. Biasanya, tari Seblang Olehsari berlangsung selama tujuh hari berturut-turut sejak sang penari bereaksi.
Penarinya adalah perempuan terpilih yang masih satu garis keturunan dari leluhur penari. Atau, pemilihan penari ditentukan secara supranatural oleh tetua adat setempat yang masih memiliki hubungan darah dengan leluhur seblang terdahulu. Tarian ini juga melibatkan kegiatan mistis karena si penari akan dirasuki roh halus agar bisa menari.
Asap dupa menjadi sajian, saat pawang berkeliling sembari membaca mantra. Sang pawang mencoba merayu roh leluhur agar masuk ke dalam tubuh si penari.
Uniknya, sang penari akan menari layaknya koreografi yang tertata. Tapi tidak, karena penari menggerakkan tubuhnya dengan mata terpejam mengikuti arahan si pawang dan irama gending.
“Mistis-nya terasa, sempat merinding namun berakhir seru karena dapat lemparan selendang, jadi disuruh ikut menari,” tutur Rahmalia Wulan (22), Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi,Universitas Indonesia (UI), yang tengah meneliti Seblang Olehsari secara langsung.
Wulan tertarik dengan kekayaan etnis yang ada di Banyuwangi. Menurutnya, Banyuwangi berhasil membawa tradisi menjadi budaya populer sehingga bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Menjadi unik karena biasanya tradisi itu eksklusif pada satu komunitas tertentu. Disini semua tradisi menjadi inklusif, tak hanya Seblang tapi seperti Barong Ider Bumi, Kebo-keboan dan lainnya juga demikian,” tutur mahasiswa asal Palangkaraya itu.
Ritual adat yang dipercayai masyarakat Olehsari sebagai bersih desa dan tolak bala ini diadakan selama tujuh hari berturut – turut.
https://beritajatim.com/gaya-hidup/gandrung-banyuwangi-akan-tampil-kembali-di-london/
Kepala Desa Olehsari, Joko Mukhlis mengaku bersyukur pelaksanaan ritual tahun ini berjalan dengan lancar tanpa halangan apapun setelah tahun lalu sempat diguyur hujan deras.
“Puji syukur mulai dari prosesi ritual hingga cuaca sangat mendukung, sehingga semuanya berjalan lancar dan ramai pengunjung sejak kemarin,” Ucap Joko.
Prosesi ritual juga terbilang lancar. Karena, pawang tak butuh waktu lama untuk memanggil roh leluhur masuk ke dalam tubuh penari.
“Proses masuknya roh leluhur pada penari juga bisa dilakukan dengan satu kali pelaksanaan saja,” tambah Joko.
Penari Seblang tahun ini adalah Dwi Putri Ramadani, 19 tahun. Perempuan yang baru saja lulus dari SMK Negeri 1 Banyuwangi itu merupakan keturunan seblang Salwati. Tahun ini adalah tahun pertamanya menjadi seblang menggantikan Susi Susanti (21) yang telah menjadi Seblang sejak 2020. (rin/ted)





