Jember (beritajatim.com) – Nahdlatul Ulama mendominasi posisi wakil presiden (wapres) selama dua dekade. Pemilu mendatang NU masih sangat berpeluang mempertahankan dominasi itu.
“Dominasi wapres dari NU sudah berlangsung dua dasawarsa. Ini seperti iklan apapun makanannya, yang penting Teh Botol Sosro minumannya. Siapapun presidennya, yang penting orang NU wakilnya,” kata Moch. Eksan, dosen mata kuliah Ahlussunnah Waljamaan (Aswaja) Universitas PGRI Argopuro, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (27/4/2023).
Megawati Soekarnoputri jadi presiden pada 2001-2004 dengan didampingi Hamzah Haz, seorang tokoh NU yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan. Tradisi ini dilanjutkan Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi Muhammad Jusuf Kalla pada 2004-2009.
Jusuf Kalla kembali jadi wakil presiden, kali ini mendampingi Joko Widodo pada 2014-2019. Jokowi kemudian didampingi Ma’ruf Amien pada 2019-2024.
Baca Juga:
Anjangsana Hari Pertama Kerja, Bupati Jember Disambati Pegawai Honorer
“Ini kelihatannya akan berulang dalam suksesi kepemimpinan nasional pasca Jokowi.Tinggal orkestrasi politik jelang pemilu tetap bertahan dan tak lepas dari kecenderungan sejarah yang lazim berlaku selama ini,” kata Eksan.
Eksan menyebut wakil Presiden adalah posisi yang bagus untuk menjalankan Fiqhus Siyasah (Fikih Politik) yang diajarkan Imam Mawardi dalam kitab Ahkamussulthoniah.
“Kepemimpinan itu dibentuk dengan tujuan untuk hirasatiddin (menjaga agama) dan wasiyasatiddunya (mengatur dunia),” katanya.
Baca Juga:
Dosen Aswaja Jember: Anies dan Ganjar Bagaikan Gajah Mada
Eksan menegaskan, momentum pergantian kepemimpinan nasional 2024, harus disikapi dengan cerdas dan cerdik demi kemaslahatan umum.
“Siapapun yang terpilih menjadi presiden, entah Prabowo, Ganjar; atau Anies, posisi wapres jangan lepas dari NU,” katanya. [wir/beq]






