Malang (beritajatim.com) – Wali Kota Malang, Sutiaji meminta masyarakat untuk mewaspadai penyebaran paham radikalisme. Terutama menjelang perayaan Idul Fitri 1444 Hijriah atau 2023.
Katanya, penguatan literasi kepada masyarakat serta penguatan sinergi berbagai elemen menjadi strategi untuk mencegah penyebaran radikalisme di Kota Malang.
“Saat ini menjelang Idul Fitri banyak orang mudik. Setelah dua tahun kita tidak mudik. Biasanya orang datang dan bertemu dari berbagai tempat, membawa beragam budaya. Saat silaturahim bisa saja pembicaraan itu ditumpangi dengan paham-paham tertentu. Jadi kita harus menjaga kewaspadaan dari semuanya,” ujar Sutiaji dalam Sosialisasi Pencegahan Radikalisme dalam Menjaga Stabilitas Keamanan dan Kewaspadaan Nasional di di Ruang Sidang Balaikota Malang, ditulis Kamis (20/4/2023).
Sutiaji menuturkan, lingkungan sosial Kota Malang yang kondusif turut melahirkan ekosistem pembangunan yang sehat, tenteram, dan damai. Sehingga menjadi daya tarik bagi ratusan ribu pendatang, mahasiswa maupun pekerja dari berbagai daerah.
Keberagaman ini dapat memicu potensi-potensi gesekan. Sehingga penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paham radikalisme.
“Apabila ada kerawanan sosial mesti dia datang (penyebar radikalisme), itu ciri cirinya. Biasanya dikait-kaitkan dengan sila kelima yang belum tercapai, seperti keadilan sosial yang belum tercapai. Paham-paham radikal ini tidak pernah berhenti. Makanya kita waspada, jangan sampai mudah terprovokasi,” ujar Sutiaji.
Baca Juga:
Pantau Arus Mudik di Exit Tol Singosari, Polres Malang Gunakan Drone
Dia pun mengingatkan, pentingnya literasi untuk menangkal radikalisme. Salah satunya dengan memahami kemajemukan Kota Malang. Katanya, hal ini menjadi penting sebagai bagian dari kewaspadaan dini.
“Tak lupa perlu memperbanyak literasi ideologi nasionalisme dan Pancasila. Juga tetap kita kuatkan, berulang kali lagu Indonesia Raya itu kan sebenernya mentasbihkan bahwa kita hidup di Indonesia,” imbuhnya.
Sutiaji, menyebut memperkuat sinergi berbagai elemen masyarakat juga menjadi strategi untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap paham radikalisme. Katanya, perlu kewaspadaan dan komunikasi yang baik.
“Ada Babinsa, Bhabinkamtibmas, Pak RT, Pak RW, tokoh masyarakat, lurah, camat, dan yang dituakan oleh kelompok masyarakat. Lakukan mitigasi kerawanan tersebut. Penting juga melakukan pemetaan potensi konflik, ancaman, hambatan dan gangguan,” paparnya.
Baca Juga:
Pemudik Mulai Titipkan Kendaraan di Polres Malang saat Pulang Kampung
Sutiaji juga mengajak untuk menguatkan ruang-ruang dialog dan silaturahmi intra dan antar umar beragama maupun antar kelompok masyarakat. Tujuannya agar tidak salah paham, dan tidak saling curiga.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kota Malang, Rinawati meyebut bahwa kegiatan ini sebagai upaya menjaga kondusifitas di Kota Malang. Sebanyak 80 peserta, terdiri dari tokoh agama dan tokoh masyarakat yang ada di Kota Malang hadir pada acara ini.
“Sehubungan dengan hal tersebut, untuk menjaga kondusifitas Kota Malang maka perlu dilakukan langkah langkah antara lain meningkatkan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan intoleransi dan nilai-nilai kebangsaan maupun peningkatan kewaspadaan pelaksanaan kajian-kajian yang menghadirkan tokoh-tokoh yang mempunyai kecenderungan pemecah belah dan radikalisme,” tandas Rina. [luc/beq]






