Surabaya (beritajatim.com) – Rektor Unesa,Rektor Unesa Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes mengapresiasi pencapaian prestasi Rachmat Irianto atau biasa disapa Rian di dunia sepak bola. Prestasi yang berkala nasional bahkan internasional.
Apresiasi Rektor Unesa yang sekaligus Ketua FOPI Jatim itu terkait masa depan hidup Rian. Apalagi saat ini telah lulus kuliah strata satu di Unesa. Tidak hanya Rian, dia juga mengapresiasi atlet-atlet lain yang berprestasi di bidang olah raga dan masih mau memerhatikan pendidikan.
“Atlet harus diperhatikan pendidikan dan masa depannya. Karena mereka sudah memberikan yang terbaik untuk daerah dan negaranya. Untuk menjadi atlet butuh seleksi yang tidak mudah, pun butuh latihan yang berjenjang,” kata Prof Nurhasan.
Karena itulah, menurutnya, para atlet perlu diberikan apresiasi. Salah satunya beasiswa pendidikan. Pada kesempatan itu, Prof Nurhasan atau biasa Cak Hasan menawarkan beasiswa lanjut studi (S-2) kepada Rian.
Alasannya jelas, kata Cak Hasan, selain sebagai apresiasi atas prestasi Rian sebagai atlet atau pemain bola profesional juga karena kontribusinya di dunia sepak bola tanah air. Ini juga komitmen Cak Hasan untuk menjamin pengembangan karir yang lebih luas bagi para atlet sepak bola atau pemain timnas Indonesia ke depan.
“Tidak hanya S-2, tetapi juga S-3 di sini, kami siapkan beasiswa. Tugas Rian hanyalah fokus latihan dan latihan saja. Terkait pendidikan itu kami sudah siapkan formatnya yang berbeda dari sistem reguler. Istilahnya ada sistem rekognisi yang dikaitkan dengan sejumlah mata kuliah,” ucap Cak Hasan.
Dia menambahkan, tidak hanya Rian yang mendapat beasiswa kuliah di Unesa, tetapi juga ada banyak atlet dari cabor sepak bola sampai renang. “Kemarin ada atlet renang dan mendapat delapan medali di PON itu juga kami berikan beasiswa S-2 di FIKK, bahkan kami siapkan kursi untuk menjadi dosen atau pendidik bahkan pelatih di Unesa.
Cabang apapun, bagi mereka yang berprestasi kami akan dukung sepenuhnya,” tandas Cak Hasan.
Rektor menambahkan, atlet telah melewati sejumlah rangkaian program latihan berkelanjutan dan mereka juga memiliki banyak jam terbang menghadapi para lawan tandingnya di lapangan.
Kemampuan ini berharga dan hanya perlu sedikit penguatan dari aspek akademik. Ketika skill di lapangan dipertemukan dengan sport sciences (ilmu keolahragaan) menjadikan atlet sebagai praktisi plus pakar di bidangnya.
“Kita tidak ingin kemampuan atlet ini habis setelah masa latihan atau pengabdian mereka selesai di klub misalnya. Nah, kita ingin kemampuan dan keterampilan mereka itu terwarisi ke generasi atau anak-anak muda lainnya bisa lewat sebagai pelatih atau dosen. Itu yang kita harapkan dan tentu ini harus by design kita bersama,” tutup Cak Hasan. [way/but]






