Jember (beritajatim.com) – Jerry Rivan, mantan kapten kedua klub Persid (Persatuan Sepak Bola Indonesia Djember), dikeroyok penonton, dalam pertandingan sepak bola antarkampung (tarkam) di lapangan Dusun Besuk, Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (9/4/2023) sore kemarin.
Jerry bermain untuk tim Patrang FC yang berhadapan dengan tim tuan rumah Gajayana. Gajayana unggul 3-0 pada babak pertama. Insiden terjadi pada menit 14 babak kedua, saat seorang pemain Patrang bersitegang dengan pemain Gajayana. “Seharusnya penonton tidak usah masuk ke dalam lapangan. Masih ada wasit. Masih bisa diselesaikan, karena sama-sama pemain,” katanya, Senin (10/4/2023) sore.
Tiba-tiba penonton masuk lapangan. “Padahal bersitegang biasa. Namanya sepak bola, ada benturan, wajar,” kata Jerry.
Jerry melihat seorang penonton hendak memukul pemain dari Patrang FC dengan besi. Dia segera membantu pemain itu. “Saya tarik. Tiba-tiba ada penonton mau memukul saya. Refleks, saya membela diri. Pas itu saya dikejar dan dipukul,” katanya.
Dalam situasi ricuh itu, menurut Jerry, ada dua pemain Patrang yang melarikan diri ke sawah. Sementara dia sendiri jatuh dan dilindungi panitia pertandingan. “Saya dipeluk sama panitia, sehingga tidak sampai babak belur. Saya cuma kena di pelipis kanan. Yang lainnya tidak apa-apa. Tidak ada yang luka, cuma bengkak di bawah mata kanan,” katanya.
Menurut Jerry, usai keributan itu, dilakukan mediasi antara perwakilan Patrang FC, panitia pelaksana, tim Gajayana, di kantor Desa Wirowongso. “Kalau saya sih mengikuti mereka. Saya sama istri ingin lapor (ke polisi). Tapi saya ingin bikin suasana lebih enak sajalah. Biar mereka yng mengurusi. Posisinya mediasi,” katanya.
Jerry saat ini berusia 32 tahun. Dia pernah memperkuat Persid pada 2012, 2014, 2017, dan 2019. Selepas dari Persid pada 2019, ia lebih banyak bermain dalam pertandingan tarkam selain bekerja sebagai satuan pengaman di salah satu bank.
“Saya sering main tarkan, cuma tidak pernah ada insiden seperti ini. Ini pertama bagi saya, main tarkam ada kericuhan. Saya tidak trauma. Sudah biasa pemain sepak bola. Apalagi tarkam, risikonya ya seperti itu. Di mana pun tempatnya pasti banyak pemain tarkam merasakan,” katanya.
Andi Slamet, Sekretaris Asosiasi Sepak Bola Kabupaten (Askab) PSSI Jember, belum menerima laporan adanya pemukulan terhadap wasit maupun pemain. “Wasit langsung ke pinggir, tidak ada yang dikejar. Mungkin pada saat ada dorongan (terhadap pemain) itu ada bahasa tubuh yang bikin penonton terpancing. Kami tidak tahu. Yang penting semalam perangkat pertandingan aman dan rule of the game sudah sesuai, selesai,” katanya
Andi menyayangkan kerusuhan tersebut. Askab PSSI Jember selama ini mempermudah terbitnya rekomendasi turnamen tarkam, karena ingin ikut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan banyaknya pertandingan sepak bola yang mengundang massa.
Dengan adanya kericuhan tersebut, Askab PSSI Jember akan memperketat pemberian rekomendasi terhadap turnamen antarkampung, terutama jika mengikutsertakan tim tuan rumah. Keikutsertaan tim tuan rumah dinilai berpotensi memicu keributan, karena emosi penonton terlibat di dalamnya.
“Kami akan lebih jeli dalam mengeluarkan rekomendasi. Kami akan tanyakan apakah ada tim tuan rumah yang ikut. Kalau ada, lebih baik tidak usah. Kalau masih bersikukuh, kami tidak akan mengeluarkan rekom,” kata Andi. [wir]






