Dalam konstalasi Pilpres 2024, publik kerap membandingkan Anies Baswedan dengan Ganjar Pranowo. Keduanya seakan mewakili dua kutub yang berseberangan jauh. Satu di kutub utara, satunya kutub selatan. Rivalitas akut. Tercermin pula pada perilaku netizen pendukungnya. Netizen pendukung Anies dan Ganjar balak balik terlibat adu argumen secara sengit di media sosial. Sulit dipertemukan.
Padahal dalam itung-itungan politik, rival riil Anies bisa jadi bukanlah Ganjar. Sebaliknya, rival kuat Ganjar bukanlah Anies. Rival Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo mungkin adalah Prabowo Subianto. Mari kita simak beberapa fakta berikut.
Sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Ganjar Pranowo bakal mewarisi pundi-pundi suara tinggalan dari Joko Widodo (Jokowi). Sempat lama berkembang, PDI Perjuangan berada di antara dua pilihan: Ganjar Pranowo atau Puan Maharani. Ganjar bermodal elektabilitas yang tinggi, Puan bermodal status anak kandung Megawati yang berarti sekaligus keturunan Presiden Soekarno.
Pilihan itu lama-kelamaan mengerucut ke Ganjar. Elektabilitas Puan Maharani yang tidak kunjung membaik membuat peluangnya perlahan kian samar dan menjauh dari posisi kandidat calon presiden. Tampaknya Puan bakal mengarah pada posisi pengganti Megawati Soekarno putri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan.
Praktis, saat ini, peluang Ganjar menduduki posisi paling puncak untuk menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan. Tinggal tunggu waktu saja. Tradisi PDI Perjuangan dalam beberapa pilpres terakhir, rekomendasi Megawati turun last minute. PDI Perjuangan bukan tipe partai yang buru-buru mendeklarasikan calon presiden.
Jika benar PDI Perjuangan nantinya mengusung Ganjar Pranowo, warisan suara dan dukungan Jokowi dalam 2 kali pilpres berpeluang melekat padanya. Ganjar pewaris suara Jokowi. Terlebih Ganjar dan Jokowi memiliki beberapa kesamaan. Sesama kader PDI Perjuangan, suku Jawa, nasionalis, dan familier dengan pers.
Anies Baswedan berada pada posisi seberang Ganjar Pranowo. Anies mewarisi suara-suara oposisi terhadap pemerintahan Jokowi. Anies juga disokong oleh pihak-pihak yang berusaha merobohkan dominasi PDI Perjuangan. Gejala itu diperkuat dengan dukungan dua partai oposisi, yakni PKS dan Partai Demokrat. Sekarang ditambah pula dengan Nasdem.
Basis massa Anies diprediksi meluber di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera. Wilayah yang pada dua kali pilpres tampaknya sulit dijangkau oleh kubu Jokowi.
Tetapi mungkin politik tidak sesederhana itu. Pertarungan Anies dan Ganjar bukan semata kelanjutan rivalitas Prabowo vs Joko Widodo. Situasinya berbeda. Sebab Prabowo sendiri secara terus terang didukung oleh Partai Gerindra untuk kembali maju. Maka peta politik perlu dibaca ulang.
Untuk itu, perlu dibaca lebih mendalam kepada peta masing-masing partai pendukung. Dimulai dari partai pengusung di pilpres 2014 dan pilpres 2019 lalu selanjutnya partai pendukung pilpres 2024.
Pilpres 2014, pasangan Jokowi – Jusuf Kalla diusung oleh Koalisi Indonesia Hebat. Terdiri dari partai PDI Perjuangan, PKB, NasDem, dan Hanura. Pasangan ini memenangi pilpres dengan perolehan suara 53,15 persen.
Pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa diusung Koalisi Merah Putih. Terdiri dari Golkar, Gerindra, PAN, PKS, PPP, dan PBB. Pasangan ini hanya mendapatkan perolehan suara 46,85 persen.
Pilpres 2019, pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin diusung Koalisi Indonesia Kerja. Terdiri dari PDI Perjuangan, Golkar, PKB, NasDem, PPP, dan Hanura. Jokowi memenangi pilpres dengan perolehan suara 55,50 persen.
Pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno diusung Koalisi Indonesia Adil Makmur. Terdiri dari Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat. Pasangan ini kalah karena hanya mendapat suara 44,50 persen.
Tahapan pendaftaran pasangan pada pilpres 2024 belum dimulai. Sehingga belum tahu secara pasti koalisi partai pengusung. Hanya saja, beberapa fenomena telah muncul. Anies Baswedan berpeluang diusung oleh koalisi partai PKS, Demokrat, dan NasDem. Prabowo mungkin diusung koalisi Gerindra dan PKB. Sedangkan Ganjar ada kemungkinan bakal diusung koalisi yang terdiri dari PDI Perjuangan, Golkar, PAN, PPP.
Pula patut dicermati, PDI Perjuangan kemungkinan akan kehilangan partner lama, yakni PKB dan NasDem. PKB kini merapat ke Gerindra. NasDem merapat ke PKS dan Demokrat. Tetapi PDI Perjuangan masih bergandengan dengan Golkar, PAN, dan PPP.
Berdasar kecenderungan koalisi di atas, tampak, ada perubahan peta dukungan. Peta seperti ketika persaingan Jokowi vs Prabowo di pilpres 2014 dan pilpres 2019 tidak utuh terulang dalam pilpres 2024.
Kubu Ganjar masih berpeluang mendapat dukungan dari pemilih berbasis nasional (melalui PDI Perjuangan dan Golkar), pemilih Islam modern (melalui PAN), pemilih Islam tradisional (melalui PPP). Kubu Anies Baswedan berpeluang mendapat suara dari kalangan Islam modern (melalui PKS) dan pemilih nasionalis (melalui NasDem dan Demokrat). Sedangkan Prabowo bisa berharap memeroleh dukungan dari kalangan nasionali (melalui Gerindra) dan pemilih Islam tradisional (melalui PKB).
Faktor lain yang berpeluang mengubah peta adalah sosok calon wakil presiden. Sosok calon wakil presiden dari kalangan kiai diharapkan mendulang dukungan dari nahdliyin. Calon wakil presiden dari daerah tertentu turut pula diharap membawa pengaruh, misal menggandeng Ridwan Kamil maka harapannya mendapat dukungan dari masyarakat Jawa Barat.
Begitulah, dalam hitungan kertas atau matematis, peta politik bakal berubah. Tidak lagi sama seperti pilpres sebelumnya.
Itu sebabnya, strategi pemenangan pun dituntut untuk berubah. Pendukung Anies tidak bisa hanya fokus kepada Ganjar. Sebab bila berfokus pada Ganjar, basis massa Anies bisa digerilya oleh kubu Prabowo. Patut diingat, Prabowo memiliki riwayat erat dengan basis massa Islam modern melalui Pilpres 2014 dan Pilpres 2019.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ribut-wijoto”]
Sebaliknya, pendukung Ganjar tidak cukup hanya fokus pada Anies Baswedan. Jika itu terjadi, kantong-kantong suara Ganjar dari kaum Nahdliyin bisa digerilya oleh kubu Prabowo melalui PKB.
Selanjutnya, kubu Prabowo mesti pintar-pintar menempatkan diri. Sebab kubu Prabowo sangat mungkin berada pada ceruk yang sama dengan kubu Anies Baswedan sekaligus berada di ceruk yang sama pula dengan kubu Ganjar Pranowo.
Pada situasi seperti itu, satu-satunya jalan keluar adalah berupaya merengkuh sebanyak-banyaknya kawan. Bersinergi dengan sebanyak-banyaknya kantong suara. Sembari menghitung secara cermat kepastian suara dukungan. Penghitungan secara cermat ini penting dilakukan, sebab bisa jadi, kemenangan dalam Pilpres 2024 tidak ditentukan oleh narasi besar. Justru mungkin kemenangan ditentukan oleh detail-detail kecil. [but]






