Surabaya (beritajatim.com) – Stikosa AWS menggelar perkuliahan umum dengan pemateri Hendro D. Laksono, Redpel (Redaktur Pelaksana) Pilar.id, Jumat (31/03/2023). Dalam pemaparannya, Hendro mengingatkan pentingnya menyikapi kehadiran teknologi AI (artificial intelligence) bagi industri media online di masa mendatang.
Pria berkumis tersebut mengatakan, teknologi AI merupakan pedang bermata dua. Bisa digunakan sebagai keuntungan jika mempunyai kemampuan untuk mengelola namun juga bisa menjadi kekurangan.
“Tujuan utama dari AI adalah untuk menciptakan mesin atau program yang dapat memperbaiki diri sendiri, mampu beradaptasi dengan lingkungan dan situasi yang berubah-ubah, serta dapat melakukan tugas-tugas yang kompleks dengan efisien dan akurat,” ujar Hendro di hadapan mahasiswa Stikosa AWS.
BACA JUGA:
Pengurus Baru YPWJT Dilantik, Ini yang Ingin Dicapai Stikosa-AWS
Dalam kegiatan belajar yang didukung oleh IKA Stikosa AWS dan Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT) ini, ia juga menyampaikan bahwa teknologi AI telah dibicarakan serius dalam beberapa poin pelatihan Advanced Fellowship Media Sustainability 2023 Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dukungan Internews-USAID MEDIA di Bali, 28 Februari hingga 3 Maret 2023 lalu. Dalam pelatihan tersebut, menurut Hendro, AI memiliki berbagai aplikasi yang luas dan terus berkembang, termasuk di bidang bisnis, kesehatan, keamanan, otomotif, manufaktur, dan sebagainya
Berkembangnya teknologi AI di berbagai sektor berpotensi mengganti keberadaan sumber daya manusia, baik human resources maupun human capital. Maka dari itu, mahasiswa di era sekarang dituntut agar bisa mengelola teknologi AI agar di masa mendatang dapat mendapatkan keuntungan.
“Perkembangan teknologi AI juga menimbulkan beberapa kekhawatiran terkait privasi, keamanan, dan dampaknya pada pekerjaan manusia,” imbuh penanggung jawab IT di portal beritajatim.com ini.
BACA JUGA:
Ketua Stikosa AWS Kembalikan Nilai Dua Mahasiswa
Hendro kemudian mendemonstrasikan video news anchor berbasis AI. Hanya bermodal 300 Dollar AS, perusahaan media bisa memiliki banyak profil pembaca berita dengan wajah dan gaya seperti yang diinginkan.
Sementara teknologi teks AI, bisa digunakan dengan biaya 20 Dollar AS. “Dengan biaya segini, hanya Rp 300 ribu perbulan, kita bisa membuat lebih dari 200 artikel bebas dengan kualitas cukup baik. Dalam pengertian, artikel yang lolos plagiarism checker,” tegasnya.
Namun, menurut Hendro, AI tetaplah produk teknologi yang tak sepenuhnya mampu berperilaku seperti manusia. Artinya, ada sisi yang AI tak bisa melakukan, dan ini tetap butuh keberadaan manusia.
“Seperti kreativitas, human dan humanity touch, sentuhan sastra, dan lain-lain,” jawab Hendro.
BACA JUGA:
Kronologi Lengkap Perseteruan Ketua Stikosa AWS dengan LPM Acta Surya
Selain isu AI, dalam kuliah umum ini Hendro juga memaparkan isu lain yang jadi trend di dunia media. Seperti virtual reality, privacy, hingga fakta yang menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat pada berita makin turun.
“Ini trend yang tumbuh menjadi tantangan dan peluang bagi kita, insan media. Sebagai wartawan, Anda dituntut menjadi lebih baik secara skill dan wawasan, sehingga mampu mengimbangi perkembangan zaman,” tegasnya di depan para mahasiswa.
Skill yang dimaksud seperti kemampuan menulis berbasis SEO yang lebih baik, kemampuan membuat video berita, live report, live interview, memotret, dan lebih peka dalam melihat persoalan sosial khususnya yang berhubungan langsung dengan manusia dan kemanusiaan.
BACA JUGA:
Dua Mahasiswi Stikosa AWS Surabaya Langsung Dapat Nilai E
Setiap masa, kata Hendro, industri media berhadapan dengan banyak peluang dan tantangan. “Dan seperti apa yang disampaikan Charles Darwin dalam teori seleksi alam, the survival is the fittest. Mereka yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk mampu mengatasi tekanan seleksi yang berbeda, mulai dari kondisi secara makro, persaingan, dan sebagainya,” tutup mahasiswa Stikosa AWS angkatan 1992 ini. [ang/but]






