Tuban (beritajatim.com) – Unik, masjid di Tuban ini memiliki cerita yang layak diketahui, bagaimana tidak, Masjid bernama An-Nur Nurul Miftahussofyan yang terletak di Dusun Gomang, Desa Lajulor, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban ini memiliki arsitektur pohon kayu jati dengan diameter sekira 85 sentimeter tinggi 27 meter berdiri kokoh di tengah-tengah sebagai tiang penyangga satu-satunya.
Selain memiliki arsitektur yang unik, konon katanya masjid ini dibangun dengan modal uang Rp 750 ribu pada 18 Agustus 1994 yang didirikan oleh KH Noer Nasroh Hadiningrat pemilik Pondok Pesantren Wali Songo.
Pada saat itu sebelum berdirinya masjid tiang kayu jati ini para santri dari pondok pesantren milik KH Noer Nasroh Hadiningrat sholat di Mushola, karena belum memiliki masjid sendiri. Hal ini lah yang membuat pemilik Ponpes berkeinginan membuat masjid, dengan anggaran yang sangat minim.
Menurut pengasuh pondok pesantren Wali Songo, KH Noer Nasroh Hadiningrat bahwa nama masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan ini diambil dari nama Kiai Noer serta ADM Perhutani dan Asper. Sebab pada jaman dahulu pembelian kayu dibatasi oleh pemerintah dan apabila melebihi batas harus melalui proses yang sangat sulit.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ramadhan”]
“Dulu saya mendapatkan kayu dari bantuan pak Miftah yang saat itu menjabat ADM Perhutani KPH Jatirogo dan pak Sofyan sebagai Asper. Makanya, untuk mengenang nama kami bertiga diputuskan untuk menggunakan nama masjid ini yaitu An-Nur Nurul Miftahussofyan,” ucap Kiai Noer sapaannya kepa reporter Beritajatim.com. sabtu (25/03/2023).
Dari proses pembangunan, dimana pada saat itu KPH Jatirogo memberi pohon kayu jati secara gelondongan. Lalu dengan keterbatasan yang ada, Kiai Noer mencoba berpikir bagaimana kayu tersebut bisa berdiri dan sebagai penyangga bangunan masjid.
“Kemudian, dibantu sekitar 7 orang kayu tersebut diberi pengait tali dan ditarik secara beramai – ramai tanpa bantuan alat berat sama sekali dan ternyata kok ringan, akhirnya dicoba bisa berdiri tegak,” ungkap Kiai Noer.
Ia menjelaskan, rencana mendirikan awal mula disepakati pada hari minggu wage, tapi berita tersebut tersebar dimana – mana dan banyak masyarakat yang datang untuk melihat. Noer merasa gelisah sebab bukan membantu justru hanya melihat. Sehingga, pendirian kayu tersebut mundur sampai hari Kamis legi, dengan alasan bahwa tak banyak masyarakat yang tahu.

“Saya khawatir, jika nanti dilihat banyak masyarakat ternyata kayunya tidak kuat saya yang malu, tapi atas pertolongan Allah, kayu tersebut saat ditarik terasa ringan,” tutur Kiai Noer.
Lebih lanjut, pohon kayu jati ini juga memiliki cerita yang menakjubkan, dimana saat proses penarikan kayu, tiba – tiba banyak berdatangan para wanita tua yang langsung melempar cincin emas serta uang. Menurut Kiai Noer, kayu tersebut belum sepenuhnya berdiri tegak, masih miring sehingga masih diberi pengait tali. Karena hal itu, Noer merasa heran dengan banyaknya para wanita tua yang sengaja melemparkan perhiasan ke bawah kayu.
“Ternyata mbah – mbah yang melempar emas dan uang itu menganut paham tentang berdirinya Kerajaan Mataram, bahwa ada cerita saat Kerajaan Mataram dibangun tanahnya ambles lagi, sehingga sebagai penguat diberi perhiasan,” kata Noer.
Maka dari itu, para wanita tua percaya bahwa pohon kayu jati ini akan berdiri kokoh apabila di bawahnya diberi perhiasan. Noer juga tidak mempermasalahkan mitos tersebut dan kini masjid yang sudah berusia 29 tahun masih tetap berdiri kokoh, meski bangunan luar masjid sudah ada penataan ulang, jika dibandingkan dengan jaman dahulu arsitek dipenuhi dengan kayu.
Selain memiliki cerita sejarah, pohon kayu jati ini juga memiliki filosofi atau makna yang sangat luar biasa, bahwa kayu tersebut memiliki diameter 85 cm dengan panjang 27 meter yang memiliki makna bahwa sholat 5 waktu yang diturunkan Nabi Muhammad SAW ketika Isro’ dan Mi’roj, yakni pada 27 Bulan Rajab. Kemudian, panjang masjid 40 meter yang artinya Nabi Muhammad SAW menerima wahyu saat berusia 40 tahun.
Serta memiliki lebar 17 meter yang bisa diartikan bahwa Nuzulul Alquran pada tanggal 17 bulan Ramadhan serta angka 17 juga menandakan kecintaan terhadap Bangsa Indonesia dan disukai oleh Allah SWT, sebab kewajiban shalat ada 17 rakaat.
“Begitu juga dengan pintu masjid dari arah sebelah kanan, kiri, depan dan belakang masing – masing memiliki 4 pintu jika ditambahkan ada 8 pintu lalu ditambah tiang yang ditengah 1 artinya ada 9 yang mana islam masuk di Indonesia ini melalui Wali Songo,” imbuhnya. [ayu/kun]
![Mengulik Cerita Sejarah Masjid Tiang Satu di Tuban para santri sedang melakukan sholat berjamaah di masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan atau masjid dengan tiang penyangga satu. [Foto : Diah Ayu/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/03/IMG_20230325_121242_11zon-1024x461.jpg)





