Mojokerto (beritajatim.com) – Terletak di kaki Gunung Welirang, Desa Belik di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto ini memiliki banyak mata air.
Desa yang berada di perbatasan Mojokerto – Pasuruan ini setidaknya memiliki tiga mata air yang ada di dua dusun.
Dua mata air terletak di Dusun Jibru dan satu mata air terletak di Dusun Belik. Saat ini, Pemerintah Desa (Pemdes) Belik tengah mengembangkan wisata di antara dua mata air yang ada di Dusun Jibru. Petung Park, wisata kuliner dengan sensasi ‘Kecek’ ini memanfaatkan mata air dan tanaman bambu.
Manager Petung Park, Kustoro mengatakan, ada dua mata air yang ada di Dusun Jibru, Desa Belik. “Dua mata air itu ada di wilayah Wisata Petung Park, keduanya ada di sisi selatan Wisata Petung Park. Yakni Sumber Bebekan dan Sumber Golong,” ungkapnya, Sabtu (25/3/2023).
“Sehingga oleh orang-orang sini diberi nama Sumber Bebekan. Yang bisa melihat hanya orang-orang tertentu, tidak semua bisa melihat. Bahkan munculnya itu di hari-hari tertentu, malam hari. Menurut cerita, dulu ada yang menemukan anak bebek di sini terus dibawa pulang,” katanya.
Namun keanehan terjadi. Saat anak bebek tersebut dibawa pulang, lanjut Kustoro, tiba-tiba hilang dan kembali ke asalnya yakni ke Sumber Bebekan. Bebek berwarna putih yang sering muncul dan tiba-tiba menghilang tersebut tidak ada yang tahu siapa pemiliknya.
“Tidak ada yang tahu, tiba-tiba muncul ada bebek sama anaknya. Tidak ada pertanda jelek atau buruk, hanya memperlihatkan saja. Yang satunya, Sumber Golong, sekarang ada tando untuk air minum masyarakat. Kenapa disebut Sumber Golong? Karena munculnya ada beberapa sumber yang muncul,” katanya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”wisata-mojokerto”]
Saat musim hujan, beberapa sumber muncul di Sumber Golong sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Sumber Golong. Orang Jawa menyebutkan Golong-golong (muncul bersamaan dalam jumlah banyak, red). Lokasinya persis di selatan hutan bambu dekat Sumber Bebekan.
“Untuk konsumsi dan pertanian masyarakat dari Sumber Golong ini. Bahkan saat musim kemarau, mata airnya tidak pernah mati. Masih ada airnya, tidak pernah kering. Mata air ini dari Gunung Welirang, di sini tidak pernah kekurangan air bersih cuma di pertanian. Kalau air sedikit, giliran,” ujarnya.
Kustoro menjelaskan, ini lantaran masyarakat Desa Belik adalah petani dan irigasi 100 persen dari sumber tersebut. Setiap bulan Ruwah setiap tahun, di dua sumber tersebut dilakukan ruwatan. Masyarakat Desa Belik menyebutkan ‘Nyelameti Dawuhan Sumber Barikan’ dan tiga tahun ada sedekah dusun.
“Belik ini ada dua dusun, Dusun Jibru dan Dusun Belik. Di Dusun Belik ada mata airnya tapi masuk wilayah Perhutani, sumbernya ada di bawahnya dusun. Namanya Sumber Jurang Pong. Tidak dimanfaatkan karena ada di bawah dusun masuk wilayah Perhutani,” tegasnya. [tin/ted]







