Surabaya (beritajatim.com) – Hari ini (14/3), merupakan peringatan 43 tahun wafatnya Wakil Presiden Pertama RI, Mohammad Hatta. Ia meninggal tepatnya pada 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta saat menginjak usia 77 tahun.
Jenazah Bung Hatta disemayamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta, dia ia ditetapkan sebagai salah seorang Pahlawan Indonesia pada 23 Oktober 1986 melalui Keppres nomor 081/TK/1986. Wajar saja, semasa hidupnya Bung Hatta telah memberikan banyak perjuangan bagi Indonesia, terutama di masa penjajahan.
Untuk mengenang kepergian sang pahhlawan, maka taka da salahnya untuk kita lebih mengenal lagi sosok dari Mohammad Hatta itu sendiri. Yakni melalui biografi singkat berikut ini.
Biografi Singkat Mohammad Hatta
Pria yang lahir pada 12 Agustus 1902 ini memiliki nama asli Mohammad Athar dan berasal dari keluarga ulama di Minangkabau, Sumatra Barat. Sedari kecil, Bung Hatta telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan agama Islam, mengingat kakeknya merupakan seorang ulama besar.
Ia mengenyam bangku sekolah dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, lalu di tahun 1916 ia melanjutkan studi ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Mengutip Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia, saat usia 13 tahun, sebenarnya beliau telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang, mengingat usianya yang masih muda.
BACA JUGA: Mengenang 32 Tahun Kepergian Kusbini, Ini Profil dan Lagu Nasional Ciptaannya
Menuruti keinginan sang ibu, Bung Hatta akhirnya bersekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Padang. Di lain tugasnya sebagai seorang pelajar, Hatta juga aktif di organisasi, seperti mengikuti Jong Sumatranen Bond Cabang Padang dan menempati posisi sebagai Bendahara.
Setelah lulus dengan hasil yang baik, barulah di tahun 1919 ia pergi ke Batavia untuk melanjutkan studi di HBS. Tak berhenti sampai disitu, ia masih tetap melanjutkan keaktifannya di Jong Sumatranen Bond Pusat dengan posisi yang sama.
Lalu pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan dan bisnis di Nederland Handelshogeschool atau Rotterdam School of Commerce, yang kini menjadi Erasmus Universiteit. Di sana, ia bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging), dan tinggal selama kurang lebih 11 tahun.
Kembali ke Indonesia
Di tahun 1932, Hatta kembali ke Tanah Air dan langsung bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia. Organisasi tiu memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat Indonesia melalui beragam pelatihan.
Naasnya, Belanda menangkap Moh Hatta bersama Sutan Sjahrir pada Februari 1934 akibat aktivitas tersebut. Sehingga ia pun berakhir mendekam di Boven Digoel, Irian Barat, kemudian dipindahkan ke Banda Naira, Maluku selama enam tahun.
BACA JUGA: Jadi Dosen di Kampus UGM, Berikut Profil dan Fakta tentang Prilly Latuconsina
Menjadi Wakil Presiden
Moh Hatta bersama Soekarno, Ki Hadjar Dewantara, dan KH Moh Mansyur menjadi pemimpinan Pusat Tenang Rakyat (Putera) kala Indonesia berada di bawah masa penjajahan Jepang. Sebelum menjadi wakil presiden, Hatta lebih dahulu dipilih menjadi Wakil Ketua Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Hingga akhirnya pada 17 Agustus 1945, Moh Hatta mendampingi Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Barulah setelah ia menjabat sebagai wakil presiden selama 11 tahun lamanya, yakni hingga 1 Desember 1956.
Setelah memutuskan untuk munduk, ia sekeluarga berpindah rumah ke Jalan Diponegoro 57. Bung Hatta menghabiskan masa pensiun dengan menulis buku dan mengajar. Tahun 1963 Bung Hatta pertama kali mengalami jatuh sakit dan mendapatkan perawatan di Stockholm, Swedia atas perintah Soekarno, dengan biaya negara, karena perlengkapan medis di sana lebih lengkap.
Setelah sakit yang berkepanjangan, akhirnya Hatta menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1986 di Jakarta. Meski telah tiada, jasa Moh Hatta rasanya akan selalu terkenang bahkan hingga saat ini. (mnd/nap)






