Blitar (beritajatim.com) – Selain mempunyai banyak wisata alam, Blitar Selatan juga memiliki sejumlah tempat bersejarah. Salah satunya adalah Monumen Trisula yang ada di Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar.
Monumen Trisula sengaja dibangun sebagai simbol peringatan penumpasan sisa-sisa PKI di Blitar Selatan. Monumen ini berdiri di lahan seluas 5.626 m2. Kecamatan Bakung dulunya memang salah satu basis PKI.
Nah, pada tahun 1968 pemerintah operasi militer dilakukan oleh TNI dan sejumlah ormas keagamaan. Operasi militer dilakukan setelah pecahnya Gerakan 30 September 1965 di Jakarta. Dalam operasi militer ini, banyak jatuh korban jiwa, mulai dari anggota PKI, masyarakat umum hingga TNI.
BACA JUGA:
Masyarakat 7 Kecamatan Dukung Pemekaran Blitar Selatan
Maka dari itulah monumen Trisula didirikan sebagai pengingat tonggak sejarah yang pernah terjadi. Monumen Trisula di Kecamatan Bakung memiliki desain yang artistik. Monumen ini memiliki lima patung yang berdiri kokoh hingga sekarang.
Patung-patung itu dikelilingi pilar tembok setinggi sekitar 5 meter. Lima patung yang berdiri di monumen Trisula tersebut terdiri dari anggota TNI serta masyarakat. Tiga dari lima patung merupakan TNI yang membawa senjata.
Ada pula satu patung TNI yang tengah menunjuk ke depan. Maknanya, menunjukkan bahwa di daerah ini pernah terjadi penumpasan sisa-sisa pengikut komunis. Sementara untuk dua patung lainnya menggambarkan warga yang mendukung dan bergabung dengan TNI dalam Operasi Trisula selama 1,5 bulan di wilayah Blitar Selatan.
BACA JUGA:
Ibu Kota Blitar Selatan Diusulkan Lodoyo dan Panggungrejo
Desain dari monumen Trisula juga memiliki makna tersendiri. Semisal 45 anak tangga menuju monumen, yang memiliki makna tahun kemerdekaan Indonesia, yakni 1945. Kemudian ada pula 17 pilar yang memiliki makna tanggal 17. Lalu ada angka 8 yang memiliki makna bulan Agustus.
Tidak hanya itu, jumlah anak tangga di Monumen Trisula juga diartikan sebagai jumlah batalyon yang tergabung dalam operasi militer, yang dipimpin oleh Kolonel Infantri Witarmin. Sementara di bagian bawah patung terukir sejumlah nama korban selama operasi militer terhadap PKI di wilayah Bakung Kabupaten Blitar.
Nama-nama korban tersebut berasal dari tokoh dan anggota PKI, warga sekitar, serta anggota TNI.
Monumen Trisula dibangun dan kemudian diresmikan pada 18 Desember 1972 oleh Deputy Kasad, Letjen TNI Mochamad Jasin. Sampai sekarang monumen masih terawat dengan baik. Monumen Trisula dikelola pihak desa sebagai destinasi wisata sejarah.

Kini salah satu destinasi wisata bersejarah tersebut terancam lepas dari wilayah Kabupaten Blitar jika usulan pemekaran wilayah Blitar Selatan disetujui. Letak monumen Trisula yang berada di Kecamatan Bakung secara otomatis akan masuk menjadi bagian dari Blitar Selatan.
Namun proses usulan pemekaran wilayah Blitar Selatan hingga kini masih berkutat di internal tokoh penggagas. Sosialisasi dan koordinasi dengan sejumlah akademisi juga terus dilakukan untuk mematangkan usulan pemekaran wilayah Blitar Selatan. [owi/suf]






