Malang (beritajatim.com) – Samsul Arifin dinobatkan sebagai lulusan terbaik pascasarjana Doktor di Unisma (Universitas Islam Malang). Dia akan melangsungkan pengukuhan wisuda, Sabtu (25/2/2023) besok dengan raihan IPK 3,90.
Pria yang saat ini menjadi dosen UIN Maliki Malang tersebut menulis tugas akhir doktoral berjudul ‘Implementasi Pendidikan Islam Multikultural sebagai Basis Pembentukan Karakter Santri (Studi Fenomenologi di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang)’.
Dalam disertasi karya Dr Samsul Arifin, nilai pendidikan Islam multikultural dijadikan sebagai basis pembentukan karakter santri di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang. Ada sebelas bentuk penanaman nilai multikultural di pesantren Al Hikam yaitu nilai tauhid, nilai ta’aruf, nilai tawasuth, tasamuh, ta’awun, tawazun, keadilan, anti kekerasan, musyawarah, menghormati pendapat orang lain, dan musawah.
“Semenjak S1,S2 sampai S3, saya selalu cumlaude. Tapi menjadi lulusan terbaik baru di Unisma ini,” ujar Samsul kepada awak media, Jumat (24/2/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”unisma”]
Dia menyelesaikan studi sarjana di Universitas Negeri Malang pada program studi Pendidikan Bahasa Arab. Kemudian jenjang magister di UIN Malang program Pendidikan Bahasa Arab. Kemudian, melanjutkan S3 non-linear di Pendidikan Agama Islam (PAI) Unisma dengan beasiswa Kemenag, program 5000 doktor tahun 2019.
“Saya sebenarnya ingin mengambil prodi linier, S3 Pendidikan Bahasa Arab. Tapi untuk mendapat beasiswa S3 sudah lima kali gagal. Akhirnya saya muhasabah diri, dan alhamdulillah dapat beasiswa di Unisma,” katanya.
Karya Disertasinya menghasilkan sejumlah temuan penting tiga temuan penting. Pertama terkait sebelas nilai yang menjadi upaya pembentukan ruhul mahad al-Hikam Malang. “Ikhlas beramal, jujur dalam bersikap, sederhana menjalani hidup, santun saat bergaul, mandiri dalam berusaha dan berjuang bersama-sama,” paparnya.
Hasil yang kedua terkait proses pendidikan Islam multikultural di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang dilakukan melalui dua cara yaitu non human elemen dan human element. Non human element menurutnya dihasilkan dengan visi, misi, orientasi, strategi, kurikulum, sumber belajar dan waktu belajar pesantren.
“Untuk human elemen pesantren memiliki pendidik, peserta didik, penyelenggara pendidikan, sarjana dan pengendali mutu. Kedua faktor ini berjalan seiring dan seirama dalam kegiatan pendidikan pesantren. Islam Multikultural sebagai upaya menemukan jati diri santri,” sambungnya.
Ketiga, bahwa model pendidikan Islam Multikultural dengan pendekatan Humanis Islamic Approach pada sebuah pesantren akan menghasilkan generasi santri ramah bukan marah, menjunjung tinggi nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin, berbangsa dan bernegara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, dan berbudaya humanisme.
“Temuan Humanis Islamic Approach diharapkan mampu menghasilkan output santri yang tidak mempertentangkan antara nilai agama dengan kemanusiaan, tetapi justru menemukan simpul-simpul baru yang memperkokoh hubungan agama dan kemanusiaan,” jelas Samsul.
Menurut pria asal Malang ini, antara hubungan islam dan kemanusiaam senada dengan pernyataan Gus Dur: “Tidak penting apapun Agama atau Sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu,” pungkasnya menirukan Gus Dur. (dan/kun)






