Magetan (beritajatim.com) – Kepala Desa Kediren Dwi Heri Susanto (DHS) akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya pada Rabu (15/2/2023). Dia mundur setelah situasi di desanya memanas. Karena warganya memprotes dirinya terkait adanya kabar dugaan pencabulan yang dilakukan Kades kepada mahasiswi KKN.
“Iya (mengundurkan diri), Mbak,” jawab DHS singkat saat beritajatim.com mengonfirmasi kebenaran kabar soal dirinya yang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala desa.
Pun, dalam pesan WhatsApp-nya di grup desa menerangkan Kades Kediren undur diri karena berbagai pertimbangan dan situasi dan kondisi yang berada di desa.
“Akhirnya kami sekeluarga memutuskan mulai hari ini saya mengundurkan diri dari kepala desa kediren matur suwun dan banyak terima kasih selama hampir 11 tahun kita berinteraksi bila ada salah kata kami sekeluarga mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya,” tulis Kades Kediren dalam pesan tersebut.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kades-cabuli-mahasiswi”]
Namun, sampai kini belum ada kejelasan apakah dia sudah menyurati Pemkab Magetan secara resmi perihal undur dirinya sebagai kades.
Sebelumnya diberitakan, warga Desa Kediren Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan menilai penanganan kasus dugaan pencabulan yang dilakukan kades DHS pada seorang mahasiswi KKN, lambat. Padahal, Bupati Magetan, Suprawoto telah membentuk tim untuk menangani kasus tersebut.
Alhasil, warga pun akhirnya berdemo di kantor desa setempat. Tak hanya puluhan, ratusan warga pun meminta Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kediren untuk menggelar rapat besar. Dengan Agenda menonaktifkan Kades Kediren DHS. Warga sempat berkumpul di satu titik dan kemudian menuju ke kantor desa dengan menaiki motor dan berkonvoi sambil membawa sejumlah poster yang bertuliskan nada-nada protes. [fiq/suf]






