Mojokerto (beritajatim.com) – Ratusan hektar tanaman padi dan jagung di Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto terancam gagal panen. Menyusul dam Sungai Sumberkembar di Dusun Wonokerto, Desa Wonodadi jebol diterjang banjir yang terjadi pada, Kamis (9/2/2023) pekan lalu.
Para petani di tiga dusun yang ada di dua desa terancam gagal panen. Ada tiga dusun di dua desa yang mengandalkan air sungai tersebut, yakni Dusun Wonokerto dan Dusun Sumberkembar, Desa Wonodadi, serta Dusun Pasinan, Desa Singowangi.
Sementara dam di Dusun Wonokerto jebol sepanjang kurang lebih 10 meter akibat hujan deras yang menyebabkan banjir, Kamis (9/2/2023) pekan lalu. Pintu air Sungai Sumberkembar tersebut tak mampu menampung tingginya debit air saat hujan deras.
Salah satu warga Dusun Wonokerto, Dwi mengatakan, jika selama ini para petani mengairi sawah menggunakan air Sungai Sumberkembar. “Yang susah kan ini, padahal dam ini yang dipakai untuk mengairi sawah-sawah warga,” ungkapnya, Rabu (15/2/2023).
Selama ini, para petani memanfaatkan pintu air tersebut untuk mengalirkan air sungai ke lahan padi dan jagung di sekitar Sungai Sumberkembar. Rusaknya pintu air membuat fungsi pengalihan sungai tak berjalan sehingga saat ini para petani hanya mengandalkan air hujan saja.
“Mau pakai sumur bor juga butuh biaya banyak, bensin naik. Padahal, sebulan lagi tanaman padi ini akan memasuki masa panen. Para petani khawatir hasil panen tak maksimal bahkan gagal panen jika kondisi tersebut tak segera ditangani,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”mojokerto”]
Para petani berharap kerusakan dam yang ada di Sungai Sumberkembar segera ditangani sehingga air sungai bisa kembali dimanfaatkan para petani. Karena para petani juga tidak hanya mengandalkan hujan turun.
“Tidak bisa kalau cuma mengandalkan hujan, harus ada irigasi. Kalau begini terus takutnya kan gagal panen semua. Kami berharap pemerintah segera melakukan penanganan karena ini satu-satunya harapan para petani,” tegasnya.
Hal yang sama diungkap petani lainnya, Purnomo. “Kebanyakan tanaman padi, ada juga jagung. Ratusan hektar karena dam ini berada di selatan desa jadi mengalir ke arah utara, dibuat untuk mengairi sawah warga aliran sungainya,” tambahnya.
Irigasi petani hanya mengandalkan air hujan karena jebolnya dam. Jika harus beralih ke sumur bos membutuhkan biaya lagi, apalagi lanjut Purnomo, sebelumnya petani juga gagal panen karena serangan hama wereng.
“Yang panen kemarin, tanaman padi petani diserang hama wereng, sekarang dam jebol. Kemarin banyak yang tanam jagung tapi pas harga turun, kalau ini gagal panen lagi ya bisa beralih ke jagung. Biaya lebih murah dibanding padi tapi harganya tidak tentu,” ujarnya.
Bahkan hasil panen saat itu turun sampai 70 persen karena hama wereng. Menurutnya, para petani di dua desa tersebut memang mengendalikan aliran Sungai Sumberkembar yang merupakan mata air satu-satunya di Desa Wonodadi.
“Iya sumber ya di selatan dam, tidak ada lagi. Biasanya irigasi ke sawah petani dibuat bergilir setiap lima hari sekali karena memang petani mengandalkan dari air sungai ini. Sekarang dam jebol jadi tidak bisa diandalkan lagi,” urainya.
Menurutnya, pasca banjir yang terjadi pekan kemarin petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rumah (Dinas PUPR) Kabupaten Mojokerto sudah turun ke lokasi mengecek lokasi jebolnya dam.
“Katanya mau dapat bantuan karung pasir diisi tanah untuk dipasang di dam yang jebol tapi masyarakat juga takut akan jebol lagi. Apalagi kalau hujan turun lagi, jika intensitasnya tinggi bisa-bisa jebol lagi. Harus ada win-win solution dari pemerintah,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA), Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto, Rois Arif Budiman mengatakan, jika tim sudah terjun ke lokasi untuk melakukan asesmen. “Saat ini masih proses penghitungan, dari hasilnya nanti kita tahu biaya yang dibutuhkan untuk penanganan,” tegasnya.
Mengingat tahun anggaran sudah berjalan, lanjut Rois, sehingga penanganan dam jebol akan dilakukan secara darurat. Saat ini, pihaknya juga sedang menangani tanggul Sungai Sumberkembar di Dusun Tambak Agung yang jebol sepanjang 20 meter.
“Penanganan bersama BBWS Brantas dilakukan secara darurat dengan pemasangan karung pasir (sandbag) dan trucuk bambu. Sejumlah titik tanggul yang jebol akibat banjir Kamis pekan lalu, juga telah diperbaiki secara darurat,” pungkasnya. [tin/kun]
![Dam Jebol, Tanaman Padi Petani di Mojokerto Terancam Gagal Panen Kondisi dam Sungai Sumberkembar di Dusun Wonokerto, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto yang jebol. [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/02/IMG_20230215_145826-1024x576.jpg)





