Magetan (beritajatim.com) – Sekda Magetan Hergunadi mengatakan tahun ini pihaknya bakal fokus untuk penanganan stunting. Tak hanya di Panekan, tapi di seluruh kecamatan lain. Pihaknya bakal memetakan lagi detail apa saja yang membuat anak-anak di Magetan mengalami stunting.
Laporan hasil bulan timbang Februari 2021 ada 10,53 persen balita stunting, dengan total 28.650 balita diukur, 3.018 diantaranya stunting. Kemudian, Agustus 2021 kembali dilaksanakan bulan timbang dan ada 10,16 persen balita stunting. Rinciannya,dari 24.657 balita diukur, 2.504 diantaranya stunting.
Kemudian, pada bulan timbang Februari 2022 ada 11,4 persen balita yang stunting, dengan total 26.583 balita diukur, 3.033 diantaranya stunting. Kemudian, pada bulan timbang Agustus 2022, ada 10,3 persen balita stunting dari 25.757 balita yang ditimbang. Atau setara dengan 2.672 balita yang pendek atau sangat pendek.
“Kami akan kumpulkan seluruh bidan yang bertugas di desa dan kelurahan. Merekalah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di masing-masing desa. Mereka yang akan memberikan edukasi pada orang tua agar anak-anaknya tidak mengalami stunting,” kata Hergunadi, Rabu (8/2/2023).
Sempat ada usulan dari warga Kecamatan Panekan, wilayah dengan kasus stunting, agar pemkab memberikan edukasi soal parenting. Perilaku orang tua terhadap anak juga perlu diperhatikan.
“Karena stunting dan kemiskinan ini linier ya. Karena kemiskinan juga mengakibatkan anak jadi stunting. Karenanya kami akan melibatkan puskesmas dan bidan desa untuk memberikan pemahaman pada masyarakat,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”magetan”]
Tugas bidan desa itu nanti tak hanya sosialisasi soal stunting, tapi termasuk sosialisasi agar aman dari penularan tuberkulosis (TBC).
“Untuk TBC itu jadi tanggung jawab siapa saja agar segera cepat tanggap ketika ada yang terjangkit. Serta, pencegahan penularan juga harus selalu dilakukan,” katanya.
Hergunadi bercerita, Bupati Magetan Suprawoto sudah mulai concern dengan kasus TBC. Bahkan, mantan Sekjen Kementerian Kominfo itu meminta agar setiap puskesmas sudah memiliki rontgen untuk bisa menunjukkan scan toraks. Dengan begitu, jadi lebih mudah untuk mendeteksi TBC.
“Namun itu belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ya. Karena, akan kami sediakan dulu di beberapa puskesmas yang merupakan badan layanan usaha daerah (BLUD) agar tersedia rontgen,” katanya. [fiq/but]






