Jember (beritajatim.com) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama membuat gerakan kemaslahatan keluarga berbasis desa. Pemerintah Kabupaten Jember diharapkan bisa menjadi contoh kerja sama dengan PBNU untuk mengelola kemaslahatan masyarakat.
Hal ini dikemukakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Alissa Wahid, dalam pencanangan gerakan kemandirian NU di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (6/2/2023). Ada beberapa persoalan yang bisa dikerjasamakan penanganannya, di antaranya persoalan tengkes alias stunting. “Untuk stunting, kami bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan yang nantinya akan memperkuat posyandu,” katanya.
Alissa setuju masalah kemiskinan dan tengkes adalah tanggung jawab bersama. Ini karena mayoritas warga adalah nahdliyyin. Persoalan ekonomi yang mereka hadapi otomatis menjadi persoalan NU juga. “Bukan hanya tanggung jawab bupati, tapi tanggung jawab NU juga,” katanya.
“Pemerintah wabil khusus Presiden Jokowi dalam pelantikan Pengurus Besar NU menyampaikan bagaimana pemerintah ingin bermitra dengan Nahdlatul Ulama. Bagaimana pun Nahdlatul Ulama adalah organisasi kemasyarakatan terbesar di tanah air kita. NU dengan umatnya di mana-mana bisa menjadi mitra strategis agenda-agenda pembangunan pemerintah,” kata Alissa.
Alissa menyitir ucapan kiai-kiai. “Mengurusi NU sama saja mengurusi Indonesia, karena saking banyaknya warga NU. Survei-survei menunjukkan 36-39 persen orang muslim di Indonesia mengaku warga NU. Jadi orang Indonesia yang muslim 220 juta orang, maka warga NU sekitar 80 juta orang. Inilah yang kemudian membuat banyak sekali kerja sama yang sudah diluncurkan oleh kementerian dan lembaga dengan Nahdlatul Ulama,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Jember”]
“Sebagian kita akan terapkan di Jember. Kampung nelayan salah satunya ada di sini, Prototipe penanggulangan kemiskinan ekstrem dengan Bappenas juga ada di sini. Nanti kita bersama-sama mengelola proyek ini agar sesuai dengan yang diharapkan para pemimpin Indonesia dan pemimpin kami di Nahdlatul Ulama, rois am dan ketua umum tanfidizyah,” kata Alissa.
Alissa juga meminta kepada Bupati Hendy Siswanto agar menyediakan sumber daya ekonomi untuk ruang khusus bagi para difabel. “Ini agar mereka bisa produktif secara ekonomi,” katanya. [wir/beq]






