Ponorogo (beritajatim.com) – Balita yang mengalami stunting di Kabupaten Ponorogo mengalami penurunan. Hal tersebut, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI). Lewat Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilakukan oleh Kemenkes RI, tahun 2022, balita di Kabupaten Ponorogo yang mengalami stunting sebesar 14,2 persen.
Prosentasi balita stunting di Kabupaten Ponorogo itu menurun jika dibandingkan dengan hasil SSGI pada tahun 2021 lalu, yakni sebesar 20,0 persen. “Hasil SSGI, tahun 2021 lalu jumlah stunting di Ponorogo ada 20,0 persen. Sementara untuk tahun 2022, jumlah stuntingnya ada 14,2 persen. Artinya ada penurunan angka stunting sebesar 5,8 persen untuk Ponorogo,” kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB)Kabupaten Ponorogo Harjono saat ditemui beritajatim.com, Jumat (3/2/2023).
Harjono mengeklaim bahwa penurunan sebesar 5,8 persen itu lebih baik jika dibandingkan dengan balita stunting tingkat provinsi dan nasional. Menurutnya, untuk Provinsi Jawa Timur (Jatim) jumlah stunting tahun 2021 ada 23,5 persen, sementara di tahun 2022 turun menjadi 19,2 persen.
[berita-terkait number=”4″ tag=”stunting”]
Untuk tingkat nasional, angka stunting tahun 2021 sebesar 24,4 persen dan tahun 2022 turun menjadi 21,1 persen. “Sehingga bisa dikatakan angka penurunan stunting di Kabupaten Ponorogo lebih baik dari tingkat provinsi Jatim dan nasional,” katanya.
Dengan angka stunting 14,2 persen itu, kata Harjono, bisa dikatakan bahwa di Kabupaten Ponorogo setiap 100 balita, ada 14 balita yang mengalami stunting. Di tingkat karesidenan Madiun, Kabupaten Ponorogo menempati urutan kedua terendah setelah Kota Madiun. Dimana Kota Madiun angka stunting tahun 2022 hanya 9 persen. “Ya wajar di Karesidenan Madiun, Kota Madiun paling rendah. Hanya ada 3 kecamatan,” pungkad Harjono. [end/suf]






