Ponorogo (beritajatim.com) – Ada beberapa penyebab Kabupaten Ponorogo dilanda penyakit mulut dan kuku (PMK) gelombang kedua seperti terjadi sekarang ini. Setidaknya ada tiga penyebab yang membuat kasus sapi yang terjangkit PMK di bumi reog kembali melanda.
Padahal, selama tiga bulan terakhir, Kabupaten Ponorogo tidak ada laporan kasus baru atau zero reported case PMK. Namun, pada tanggal 10 Januari 2023, ada laporan kasus baru pertama PMK, yang diketemukan di salah satu ternak warga Desa Munggung Kecamatan Pulung.
Dari tanggal 10 hingga 30 Januari 2023, Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Kabupaten Ponorogo mencatat sudah ada 239 kasus PMK. “Ada laporan lagi kasus baru PMK itu pada tanggal 10 Januari lalu. Ada 1 sapi milik warga Desa Munggung Kecamatan Pulung yang terjangkit PMK,” kata Kepala Dispertahankan Kabupaten Ponorogo, Masun, Rabu (1/2/2023).
[berita-terkait number=”3″ tag=”pmk-ponorogo”]
Penyebab-penyebab masuknya lagi PMK di Kabupaten Ponorogo, kata Masun, yang pertama karena longgarnya lalu lintas ternak saat natal dan tahun baru (nataru) awal tahun 2023. Padahal waktu itu, kondisi PMK di provinsi sebelah sedang menunjukkan tren yang meningkat.
Sehingga membuat wilayah perbatasan termasuk Kabupaten Ponorogo menjadi rentan terkena imbasnya. Sebab, lalu lintas ternak pada waktu itu atau saat nataru itu longgar. “Laporan kasus PMK yang pertama di Desa Munggung itu, kita cek ke peternaknya bahwa yang bersangkutan baru mendatangkan sapu dari luar daerah,” ungkap Masun.
Kemudian penyebab kedua, kedatangan ternak-ternak dari luar daerah dan masuk ke Kabupaten Ponorogo itu, dalam kondisi belum divaksin PMK. Sehingga ternak tersebut mudah atau rentan untuk tertular PMK. Bahkan, bisa jadi ternak-ternak dari luar daerah ini, masuk ke Ponorogo mulai ada gejala PMK. “Jadi ternak-ternak dari luar daerah yang masuk Ponorogo, tidak ada riwayat vaksin PMK-nya,” katanya.
BACA JUGA:
Tanggulangi PMK Gelombang 2, BPBD Ponorogo Ajukan Anggaran Rp 1 Miliar
Penyebab selanjutnya, adalah ternak-ternak yang sudah lama di Kabupaten Ponorogo. Meski tidak dari luar kota, ternak-ternak ini akhirnya juga tertular PMK. Sebab, ternak yang lama di Ponorogo dan baru terkena PMK ini, dikarenakan belum divaksin. Jadi ada peternak yang menolak ternaknya untuk divaksin oleh petugas dari Dispertahankan Kabupaten Ponorogo.
“Misalnya di Kecamatan Bungkal itu paling tinggi penolakan vaksinnya. Sekarang disana yang paling banyak kasus PMK-nya, ada sekitar 60 ekor sapi yang terkena,” pungkas Kepala Dispertahankan Kabupaten Ponorogo ini. [end/suf]






