Jember (beritajatim.com) – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengingatkan soal standarisasi alat ukur milik posyandu untuk mengetahui kondisi bayi di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ini mempengaruhi penentuan status tengkes atau stunting.
Prevalensi balita stunted (tinggi badan menurut umur) di Jember menurut Kementerian Kesehatan mencapai 34,9 persen. Jember menduduki peringkat nomor wahid di Jawa Timur. Sementara menurut data Dinas Kesehatan Jember, angka stunting hanya 7,37 persen.
“Saya sudah sampaikan ke Pak Bupati bahwa masalah angka ini ada hubungannya dengan pengukuran. Posyandu di Jember ini jumlahnya 2.800. Alat ukur di posyandu kan belum semua standar, masih mengukur sesuai keyakinan masing-masing,” kata Hasto, di Jember, Selasa (31/1/2023).
Hasto menyarankan pengadaan antropomteri mulai dilakukan bertahap. “Kita usulkan juga ke Kementerian Kesehatan agar dibelikan. Alat ukurnya biar sama, antara alat ukur yang dipakai Kementerian Kesehatan dan posyandu. Insya Allah kalau alat ukurnya sama, hasilnya akan lebih baik, dan gerakan memastikan bantuan makanan protein hewani sampai ke ibu hamil dan bayi,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”bkkbn”]
Sementara itu, Bupati Hendy Siswanto mengatakan, akan ada verifikasi faktual kembali pada Februari. “Kami akan berkolaborasi dengan TNI-Polri. Setelah itu kami akan melakukan treatment di klaster setiap desa,” katanya.
Tahun ini, menurut Hendy, Pemkab Jember akan berfokus pada program penurunan tengkes. “Wajib, tidak boleh tidak. Penurunan angka stunting, angka kematian ibu, angka kematian bayi, peningkatan gizi, dan penurunan kemiskinan esktrem. Kami akan jadikan satu 15 OPD (Organisasi Perangkat Daerah) uintuk menyelesaikan persoalan stunting dan turunannya. Termasuk pengendalian inflasi, masuk dalam program penanganan stunting karena kami beli barang produk lokal,” katanya.
Dengan prioritas penanganan tengkes, maka pengerjaan fisik infrastruktur hanya untuk yang benar-benar diprioritaskan. “Target kami tahun 2024, stunting harus nol. Kami canangkan hari ini Jember Pusat Edukasi Penurunan Stunting. Ada 40 desa yang harus kita treatment,” kata Hendy. [wir/ted]






