Surabaya (beritajatim.com) – Asprov PSSI Jawa Timur mengantisipasi kericuhan di dalam maupun luar stadion saat pertandingan. Hal itu dilakukan jelang digelarnya Piala Soeratin U13 dan U15 di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (1/2/2023).
Dyan Dyan Puspito Rini, Sekretaris PSSI Jawa Timur saat ditemui di kantor PSSI Jawa Timur, Senin (30/1/2023), mengatakan pasca tragedi Kanjuruhan dan beberapa kali maraknya pengerusakan dan pelemparan batu yang dilakukan suporter. Ia menggelar kompetisi tanpa penonton.
Pihak panpel tidak membuka penjualan tiket untuk para suporter yang akan menontong pertandingan, pasalnya pihaknya sampai saat ini masih belum menemukan formula khusus untuk menjaga bagaimana meminimalisir kericuhan di stadion.
“Kita tidak pakai penonton dan tidak meniketkan pertandingan besok di Banyuwangi, bukan tanpa alasan tapi kita masih belum menemukan formula bagaimana mengantisipasi adanya kericuhan di dalam stadion,” ucap wanita yang kerap disapa Ririn ini, Senin (30/1/2023).
[berita-terkait number=”4″ tag=”pssi-jatim”]
Mantan atlet layar ini meyakini bahwa masih banyak para suporter yang jauh menginginkan tidak ada keributan saat sepak bola dipertandingkan.
“Kita jelaskan di awal bahwa tidak ada penonton dan ditiketkan namun perlu disadari jika para pemain tentu akan membawa keluarga, hal ini yang akan berkoordinasi dengan aparat terkait berapa jumlah yang diperbolehkan berada di dalam tribun,” imbuhnya.
Pasca adanya pelemparan batu kepada bus transpotasi pemain timnas Thailand di Jakarta dan bus pemain Persis Solo di Tangerang ditambah dengan pengerusakan fasilitas milik salah satu klub liga 1 di kota Malang.
Tentu hal ini membuat para perangkat kompetisi termasuk federasi lebih waspada jika akan menggelar sebuah kompetisi. [way/but]






