Gresik (beritajatim.com) – Kasus penistaan agama pernikahan manusia dengan domba sempat menjadi atensi aparat penegak hukum. Agar kasus yang masuk kategori sara itu tidak terulang lagi, Kapolres Gresik AKBP Adhitya Panji Anom sowan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik.
Kedatangan perwira menengah Polri juga untuk menerima masukan dari ulama. Bagaimana menciptakan suasana kamtibmas di wilayah hukum Polres Gresik tetap kondusif dan aman. “Alhamdulillah selama ini Kapolres yang bertugas di Gresik terus menjalin silaturahmi dengan MUI,” ujar KH. Mansoer Shodiq selaku Ketua MUI Kabupaten Gresik, Sabtu (28/01/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”penistaan-agama”]
Sementara itu, Kapolres Gresik AKBP Adhitya Panji Anom mengatakan, dirinya memohon bimbingan dari MUI Gresik dalam melaksanakan tugas di wilayah Kabupaten Gresik agar dapat sesuai dengan harapan masyarakat.
“Kami berharap untuk dapat diberikan informasi, dan koreksi apabila terdapat kekeliruan dalam melaksanakan tugas. Gresik merupakan kota santri yang terdapat banyak makam wali sehingga berharap besar bimbingan dari MUI,” katanya.
Mantan Kapolres Blitar itu menambahkan, Gresik sebagai kota santri secara tidak langsung melibatkan peran ulama dalam membantu kepolisian menjaga kamtibmas. “Kami mohon saran serta bimbingan dari para ulama. Sebab, ulama termasuk garda terdepan memberi edukasi kepada masyarakat,” imbuhnya.
Seperti diberitakan kasus penistaan agama di Kabupaten Gresik membuat masyarakat gempar. Ikon sebagai kota santri yang melekat sempat luntur saat adanya pernikahan nyeleneh manusia dengan binatang yang melibatkan oknum anggota dewan. [dny/kun]






