Keduanya tak bisa dikomparasikan secara apple to apple. Yang satu seorang perdana menteri, yang lainnya seorang menteri.
Persamaan keduanya: Berusia muda. Rishi Sunak, Perdana Menteri Inggris, belum genap berusia 50 tahun ketika dilantik sebagai orang pertama di jabatan eksekutif Pemerintah Inggris. Di sisi lain, Sandiaga Salahudin Uno (Sandiaga Uno) berusia 53 tahun dan kini dipercaya sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Sunak dan Sandiaga Uno mewakili kalangan politikus muda yang dipercaya memegang jabatan bergengsi di pemerintahan. Sekali pun keduanya berangkat dari negara dengan potret sosial ekonomi, mapping sosial politik, garis kultur, dan histori politik yang tak sama.
Sunak memimpin Inggris, salah satu negara G-7 dan G-20, yang punya sejarah panjang di level global. Inggris memimpin negara Persemakmuran, yang anggotanya membentang dari Benua Asia, Afrika, Eropa, Amerika Latin, hingga Australia. Inggris telah menghegemoni dunia jauh sebelum Perang Dunia (PD) I dan II meletus.
Pasca PD II, hegemoni politik, ekonomi, dan keamanan internasional berubah ke Blok Liberalisme-Kapitalisme di bawah pimpinan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis. Di kutub lainnya ada Blok Komunis di bawah kendali Uni Soviet dan RRC yang menggaungkan ideologi Komunisme-Etatisme.
Menjelang akhir tahun 1980-an, Blok Komunisme runtuh yang ditandai dengan bersatunya negara Jerman, bubarnya negara Uni Soviet, dirobohkannya Tembok Berlin, dan bubarnya Pakta Warsawa.
Jauh sebelum itu, RRC telah meninggalkan dalil-dalil primer Komunisme dengan mengadaptasi pemikiran dan dalil ekonomi pasar (Kapitalisme), sehingga RRC disebut sebagai negara dengan dua sistem: Bidang politik dan keamanan konsisten dengan dalil Komunisme sebagaimana didalilkan Karl Marx dan Mao Zedong.
Sedang di bidang ekonomi, RRC mengadopsi filosofi ideologi Kapitalisme dan Liberalisme perdagangan. Transformasi sistem ekonomi China berlangsung sepeninggal Mao Zedong, dengan tokoh utamanya Deng Xiao Ping. Kini, RRC menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia di bawah Amerika Serikat.
Sunak dan Kejayaan Keturunan India
Tampilnya Sunak sebagai PM Inggris menggantikan Liz Truss yang mundur setelah baru 45 hari berkuasa dari Partai Konservatif, menjelaskan banyak perspektif tentang Sunak. Pertama, Sunak seorang politikus berusia muda. Menjabat PM Inggris dengan usia di bawah 50 tahun.
Kedua, Sunak seorang beragama Hindu keturunan India yang pertama kali memegang kendali utama dalam sejarah pemerintahan Inggris. Sunak seorang warga Inggris yang berasal dari kalangan kulit berwarna. Sang penganut agama Hindu itu juga menjadi PM termuda pertama dalam kurun waktu lebih dari 200 tahun.
Sunak (42 tahun) merasa mendapatkan kehormatan dan bangga karena meraih dukungan dari sesama anggota parlemen dari Partai Konservatif dan dipilih sebagai pemimpin. “Ini merupakan kehormatan terbesar selama hidup saya untuk bisa mengabdi kepada partai yang saya cintai dan membalas budi kepada negara yang telah memberikan begitu banyak,” kata Sunak sebagaimana dilansir BBC.
Sebelum menjabat PM Inggris, Sunak pernah dipercaya sebagai Menteri Keuangan Inggris di masa pandemi Covid-19. Banyak masalah ekonomi, satu di antaranya Inggris sedang meluncur ke garis kemiskinan dan krisis ekonomi bersifat kompleks adalah realitas ekonomi politik yang dihadapi Inggris di era Sunak.
Problem lainnya antara lain, Badan Kesehatan Inggris, NHS, telah kehabisan uang. Sektor pendidikan kesusahan mengejar ketertinggalan setelah Covid. Sektor transportasi melemah. Ada pula masalah dengan pembangunan rumah-rumah. Belum lagi tantangan perubahan iklim dan ketersediaan energi. Daftar masalah ini bisa terus bertambah panjang.
Kedua orangtua Sunak asli orang India yang sempat bertempat tinggal di Afrika Timur sebelum migrasi ke Inggris. Sebagai anak migran, Sunak memperoleh pendidikan bagus. Dia pernah kuliah di Oxford University Inggris dan Stanford University Amerika Serikat. Keduanya dikenal sebagai lembaga pendidikan tinggi jempolan di dunia.
Sunak lahir di Inggris tahun 1980. Dia menikah dengan anggota keluarga miliarder India pendiri perusahaan perangkat lunak Infosys. Kapasitas dan profesionalisme Sunak di bidang bisnis dan keuangan tak diragukan. Merebut kursi PM Inggris dan pimpinan Partai Konservatif, Sunak menghadapi politikus senior seperti mantan PM Inggris Boris Johnson.
Johnson adalah selebriti politikus terbesar Inggris saat ini. Namun, banyak rekan separtainya yang meyakini dia terkenal karena keburukannya, bukan karena dikagumi. Sunak memimpin Partai Konservatif ketika kekuatan politik ini berada di titik nadir reputasinya.
Kendati demikian, sebagai politisi muda, Sunak bersedia mengambil risiko politik tersebut. Itulah politik. Percampuran antara panggilan mulia untuk melayani masyarakat dan nafsu menuruti ambisi.
“Karena Anda menjadi PM Inggris, saya menanti-nantikan bekerja sama erat dalam isu-isu global, dan menerapkan Peta Jalan 2030,” kata Perdana Menteri India, Narendra Modi, sebagaimana dilansir BBC.
Peta Jalan 2030 itu merupakan pakta kerja sama ekonomi Inggris-India yang bertujuan melipatgandakan perdagangan kedua menjadi bernilai US$100 miliar selama ini berjalan tertatih-tatih.
Kakek dan nenek Sunak berasal dari Punjab, India. Sedang ayah mertuanya, Narayana Murthy, adalah pendiri perusahaan teknologi, Infosys, sekaligus salah satu pengusaha ternama di negara itu. Sunak penganut Hindu yang taat. Dia menyembah seekor sapi saat menjalankan ritual agama, menyalakan lampu Diwali di kediamannya di Downing Street, dan mencintai kriket, olahraga nomor satu warga India.
Terpilihnya Sunak sebagai PM Inggris menambah daftar orang-orang keturunan India yang sukses menduduki posisi penting di sejumlah lembaga penting di level global. Sebelumnya, warga India patut bangga dengan Sundar Pichai yang dipercaya memimpin Google. Satya Nadella menjadi eksekutif di Microsoft juga keturunan India.
Keberhasilan orang-orang berdarah India di luar negeri dipandang sebagai bukti keunggulan India. Yang penting dicatat: Mereka rata-rata masih berusia muda.
Sandi di Antara Politik dan Bisnis
Sekali pun tak bisa dibandingkan secara apple to apple, Sandiaga Uno merupakan representasi kalangan muda di Indonesia secara bisnis dan politik. Saat terpilih sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandi belum berusia 50 tahun. Maju sebagai cawapres di Pilpres 2019 berpasangan dengan capres Prabowo Subianto, usia Sandi genap 50 tahun. Sejak akhir Desember 2020, Sandi dipercaya sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Bisnis dan politik adalah dua ranah yang digeluti Sandi dalam 7 tahun terakhir. Capaian prestasinya di jalur politik berlangsung begitu cepat. Sempat ‘jatuh’ akibat kalah di kontestasi Pilpres 2019, ternyata realitas tersebut tak membuat Sandi ‘mati langkah’.

Sandiaga mengikuti jejak koleganya sesama pelaku bisnis yang sukses, Erick Thohir (Menteri BUMN) dan M Lutfi (Mendag sebelum di-reshuffle dan digantikan Zulkifli Hasan). Ketiganya: Sandi, Erick, dan Lutfi pernah sama-sama menempuh pendidikan di Amerika Serikat.
Ranah politik merupakan jalan hidup dan lapangan ‘baru’ bagi Sandi. Jauh sebelum itu, Sandi berkiprah di wilayah bisnis. Politisi dan pengusaha kelahiran Rumbai, Pekanbaru, Provinsi Riau pada 28 Juni 1969 ini pernah menduduki jabatan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Sandiaga sempat bertarung memperebutkan jabatan Ketua Umum Kadin, tapi nasib berkata lain. Dia tak beruntung.
Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses, publik tak meragukan track record Sandiaga dalam konteks ini. Dia ahli ‘menyulap’ perusahaan sakit-sakitan yang kemudian masuk ICU. Dengan sentuhan tangan manajerial Sandiaga, politikus muda Partai Gerindra ini mampu ‘mengobati’ dan menyembuhkan perusahaan Senin-Kamis tersebut menjadi korporasi yang sehat wal afiat.
Bersama rekannya, Sandiaga mendirikan sebuah perusahaan di bidang keuangan, PT Saratoga Advisor. Korporasi bisnis ini sukses dan telah mengambil alih beberapa perusahaan lain. Pada tahun 2009, ia tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut majalah Forbes. Tahun 2011, Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di Indonesia. Ia menduduki peringkat ke-37 dengan total kekayaan US$660 juta.
Sandiaga Uno lulus dari Wichita State University, Amerika Serikat dan mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan di Universitas George Washington, Amerika Serikat. Sempat ‘nyantri’ sebagai profesional di sejumlah perusahaan di dalam maupun luar negeri, Sandiaga lantas menjalin relasi bisnis dengan Edwin Soeryadjaya, putra William Soeryadjaya, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usahanya meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.
Relasi bisnis Sandiaga dengan Edwin dan banyak kolega bisnis lainnya makin menggurita. Tak heran di usianya yang masih muda, Sandi masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia.
Ranah politik adalah lapangan lain yang digeluti Sandiaga pasca-reformasi 1998. Dia masuk Partai Gerindra, rumpun komunitas politik berpaham Nasionalisme dengan Prabowo Subianto sebagai tokoh sentralnya.
Karir politik Sandiaga di Gerindra sangat cepat meroket. Dia dijagokan sebagai cawagub DKI Jakarta mendampingi Anies Rasyid Baswedan di Pilgub DKI Jakarta 2017. Hasilnya menang dengan mengandaskan pasangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Syaiful Hidayat yang disokong PDIP dan sejumlah partai lainnya.
Tak sampai 2 tahun di posisi orang kedua di Pemprov DKI Jakarta, Sandiaga ‘dipromosikan’ secara politik sebagai cawapres berpasangan dengan Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Nasib berkata lain: Pasangan Prabowo-Sandi kalah dengan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.
Sempat ‘parkir’ setahun beberapa bulan, di akhir Desember 2020 Sandiaga dipercaya sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin, kompetitornya di kontestasi Pilpres 2019. Pengangkatan dan kepercayaan kepada Sandiaga dan Prabowo ini menandakan bahwa di lapangan politik tak ada lawan abadi. Yang ada kepentingan politik yang abadi.
Sandiaga, termasuk Prabowo, berbalik posisi dari lawan politik Jokowi-Ma’ruf Amin, menjadi sahabat seperahu dalam menapaki kerja Kabinet Indonesia Maju hingga 2024 mendatang.
Politikus Senior
Rishi Sunak dan Sandiaga Uno memiliki sejumlah persamaan. Keduanya sama-sama politikus muda. Keduanya pernah mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan jempolan di Amerika Serikat. Keduanya berangkat sebagai kaum profesional yang lantas terjun di ranah politik. Keduanya diapit banyak politikus senior (tua).
Sebelum merengkuh jabatan Ketua Partai Konservatif dan PM Inggris, Sunak bersaing dengan sejumlah politikus senior partai tersebut. Satu di antara pesaingnya adalah Boris Johnson, mantan wartawan yang banting setir sebagai politikus dan pernah menjabat PM Inggris.
Johnson dikenal sebagai politikus selebriti itu dikenal sebagai elite senior Partai Konservatif. Dia pernah duduk sebagai anggota parlemen dan beberapa kali dipercaya masuk kabinet. Jam terbang Johnson di lapangan politik praktis Inggris lama dengan pengalaman politik bersifat paripurna.
Tak mudah bagi Sandiaga melalukan mobilitas politik bersifat vertikal di Partai Gerindra. Di situ ada sosok Prabowo, pensiunan jenderal bintang 3 dengan kepemimpinan kharismatik yang kuat di kalangan elite, pengurus, dan pendukung Gerindra.
Dalam diri Prabowo dan korelasinya dengan Gerindra terkandung banyak label. Prabowo penggagas dan pendiri Gerindra. Prabowo adalah Ketua Umum Gerindra dan Prabowo pula Ketua Dewan Pembina Gerindra. Figur Prabowo menjadi sumber kekuasaan dan pengaruh tunggal di partai ini. Prabowo menjadi tumpuan utama, kekuatan, dan backbone politik Gerindra.
Prabowo termasuk politikus senior di Indonesia, selain Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Partai Demokrat, Megawati Soekarnoputri di PDIP dan Surya Paloh di Partai NasDem. Keempat politikus gaek ini mempunyai pengaruh politik yang dominan di rumah tangga partainya masing-masing.
Gerindra identik dengan Prabowo. SBY sama dengan Partai Demokrat. PDIP tak mungkin dilepaskan dari nama Megawati, dak Ketokohan Surya Paloh begitu dominan di Partai NasDem. Keempat politikus senior itu berusia 70 tahun lebih.
Di era kekinian, jagat politik Indonesia didominasi para politisi berusia di atas 60 tahun, dan banyak di antaranya sudah lebih 70 tahun. Mereka malang melintang dalam kancah politik Indonesia sejak masa Orde Baru kemudian melintasi masa Reformasi yang kini sudah masuk dasawarsa ketiga.
Para politikus senior ini, meminjam ungkapan yang lazim dalam politik Amerika Serikat, disebut aging politicians. Politisi lanjut usia atau politisi yang sudah dimakan umur. Formasi struktur kepemimpinan puncak partai di Indonesia didominasi politikus tua, politikus senior yang sudah banyak makan asam garam jagat politik Indonesia.
Istilah populer lain untuk menggambarkan fenomena ini adalah gerontokrasi: keadaan politik dan pemerintahan di mana yang berkuasa orang-orang yang secara signifikan lebih tua dibandingkan rata-rata populasi dewasa.
Salah satu dampak buruk gerontokrasi adalah terhalangnya mobilitas vertikal politik politikus generasi lebih muda. Tak mudah bagi politikus muda untuk menembus dominasi atau sedikitnya hegemoni pemegang gerontokrasi. Akibat lebih lanjut adalah memunculkan otokrasi dalam partai. Di mana proses pengambilan keputusan strategis partai ditentukan oleh satu dan atau segelintir orang yang berada di inner circle politikus senior dari partai tersebut.
Tidak hanya Sandiaga Uno, secara faktual politik, sebenarnya cukup banyak politikus muda potensial di Indonesia ‘tersandera’ para aging politicians. Sehingga akses mereka melakukan mobilitas politik bersifat vertikal cukup sulit. Apalagi, model kepemimpinan partai di negara ini kadangkala menempatkan garis nasab sebagai salah satu penentu bagi seorang politikus untuk bisa merengkuh jabatan strategis di partai.

Ainur Rohim, Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






