Pasuruan (beritajatim.com) – Ngadiwono, sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Bromo, Kabupaten Pasuruan. Suasana asri. Setiap orang yang datang akan merasa seperti tersihir. Larut dalam nyamannya cara hidup masyarakat setempat.
Saat waktu sholat tiba, lantunan azan terdengar merdu. Masyarakat muslim setempat pun segera menuju masjid untuk sholat berjemaah.
Suasana itu mungkin tampak biasa jika di desa lain. Tetapi di Ngadiwono, pemandangan itu menjadi tampak begitu indah. Sebab desa ini dihuni oleh penduduk beragama Hindu.
Ya, Hindu adalah agama mayoritas di Ngadiwono. Meski begitu, tak pernah ada masalah dengan pemeluk Islam, bahkan Kristen. Semua bebas menjalankan ajaran agamanya dan hidup saling berdampingan.
Suasana inilah yang menjadikan Ngadiwono di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dinobatkan sebagai Desa Sadar Kerukunan Beragama pada 21 Oktober 2021 lalu. Penobatan ini ditandai dengan prasasti yang ditandatangani oleh Wakil Bupati Pasuruan, Mujib Imron.
Prasasti ini ditempatkan di gapura masuk sisi kanan Desa Ngadiwono. Prasasti ini menjadi bukti warga Ngadiwono menjunjung tinggi toleransi antar-umat beragama.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pasuruan”]
“Sebelum desa ini ditetapkan dan dijadikan Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama, warga di sini sudah rukun. Kerukunan ini ditunjang dengan adat budaya yang tidak lepas dari tradisi,” kata Kepala Desa Ngadiwono, Atim Priyono, Selasa (6/12/2022).
Diketahui Desa Ngadiwono sendiri mencakup empat dusun yaitu Ledoksari, Krajan, Banyu Meneng, dan Ketuwon. Dari keempat Dusun tersebut, 90 persen penduduknya beragama Hindu dan sisanya Islam serta Kristen.
Meski didominasi dengan agama Hindu, warga tidak memandang ras, suku, dan agama. Saat seorang warga mempunyai hajat, semua tetangga akan saling bantu.
Pun saat mendirikan rumah, warga saling bekerja sama tanpa memandang keyakinan. Semua hidup dalam kegembiraan toleransi.
Kasi Pelayanan Desa Ngadiwono, Hariawan mengatakan, warga hidup sangat rukun. Tidak sedikit warga yang urun barang jika mereka tak bisa memberikan tenaganya.
“Gotong-royong warga Ngadiwono ini yang menjadi kunci kerukunan beragama. Selain ada hajat, warga yang bangun rumahpun warga juga saling bahu membahu,” kata Hariawan. [ada/beq]






