Surabaya (beritajatim.com) – Sampoerna Academy Surabaya mengadakan STEAM Festival untuk kembangan kecerdasan budaya dan kompetensi bahasa. Kegiatan ini digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek atau Lunar New Year 2023
Dalam perayaan Lunar New Year tahun ini, Sampoerna Academy Grand Pakuwon mengangkat tema “China Through The Ages”. Tema ini diangkat untuk mengenalkan salah satu peradaban tertua di dunia dari masa ke masa.
Menariknya, seluruh pertunjukan di festival budaya ini ditampilkan dan dipersembahkan oleh para murid.
“Hal ini merupakan contoh nyata pembelajaran menggunakan STEAM, di mana murid didorong untuk berpikir kritis dan memahami lebih mendalam, serta diberi kesempatan untuk mengeksplorasi seluruh kemampuannya dalam mencari solusi atau cara baru,” kata Principal Sampoerna Academy Pakuwon Indah, Adelina Holmes.
Berbeda dengan Sampoerna Academy Pakuwon Indah, murid berusia Early Learning dan TK antara 2 sampai 5 tahun, pengembangan kecerdasan budaya dan kompetensi bahasa dilakukan dengan cara yang unik.
“Untuk peserta didik usia early learning, tentunya kegiatan yang dilakukan sifatnya lebih menyenangkan, tapi tetap mendidik. Misalnya, membuat tulisan kaligrafi ucapan Lunar New Year, atau melukis dan menghias lentera. Ini adalah adopsi konsep pembelajaran “Power of Play” yang menjadi kurikulum IEYC (International Early Years Curriculum) yang kami terapkan di Sampoerna Academy,” jelas Adelina.
[berita-terkait number=”3″ tag=”sampoerna-academy-surabaya”]
Perayaan Lunar New Year juga merupakan upaya Sampoerna Academy menanamkan peserta didik mengenai tatanan nilai-nilai budaya Asia yang mengedepankan keharmonisan, toleransi, dan saling menghargai.
“Harapannya, siswa dapat mengembangkan pola pikir global melalui kurikulum internasional yang dipelajari, sambil tetap menjunjung falsafah luhur Asia, tempat mereka lahir atau tinggal,” katanya.
Tentunya, lanjutnya, pola pikir ini menjadi buah dari upaya pengembangan kecerdasan budaya yang ditanamkan sejak dini. Seperti dijelaskan oleh Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana di Webinar Cultural Intelligence: An Essential Skill Set for 21st Century yang diadakan oleh Sampoerna Academy.
“Kecerdasan budaya mengacu pada kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dalam konteks beragam budaya, yang tentunya berkaitan dengan kompetensi kognitif atau berpikir, mengelola emosi, dan berperilaku saat berhadapan dengan orang lain,” ucap dia.
Apabila anak cerdas budaya, menurutnya, mereka akan lebih luwes dalam bergaul, memiliki kecakapan komunikasi lebih baik, fleksibel dalam berpikir atau open minded.
“Serta mampu menjalin hubungan lebih harmonis dan minim konflik dengan orang-orang di sekitarnya,” katanya.
Principal Sampoerna Academy Grand Pakuwon, John Murphy menyebut Sampoerna Academy juga berfokus pada pengembangan karakter peserta didik melalui berbagai kegiatan belajar mengajar non-formal.
“Seperti menggelar perayaan Lunar New Year sebagai upaya mengembangkan kecerdasan budaya dan kompetensi bahasa,” katanya.
John menjelaskan Sampoerna Academy berfokus pada pendekatan STEAM untuk mengembangkan kompetensi 5C pada murid, yaitu Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Character.
“Kami juga menerapkan program trilingual atau tiga bahasa, yaitu Indonesia, Inggris, dan Mandarin,” katanya.
Hal ini, kata John, untuk mendapatkan hasil optimal, proses belajar mengajar di Sampoerna Academy tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas melalui berbagai kegiatan atau program edukatif.
“Misalnya, setiap tahun kami menggelar perayaan Lunar New Year untuk mengembangkan kecerdasan budaya dan kompetensi bahasa di kalangan peserta didik,” ujarnya.
Sampoerna Academy juga mengucapkan Selamat Tahun Baru Lunar. “Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan sejahtera,” pungkasnya. [asg/beq]






