Lamongan (beritajatim.com) – Nelayan Lamongan cukup produktif selama 2022. Hasil tangkapan mereka di Tempat Pelelanan Ikan (TPI) yang ada di Kabupaten Lamongan, selama 2022 mencapai 79 ribu ton lebih atau mencapai sekitar Rp 1 triliun. Jika dibuat rata-rata Rp12 ribu harga ikan per kilogramnya.
Kepala UPT TPI Kabupaten Lamongan, Bambang Tri menyampaikan bahwa 79,9 ribu ton itu berdasarkan rekapitulasi produksi atau hasil tangkapan ikan di 5 TPI yang ada di wilayah Kabupaten Lamongan terhitung sejak bulan Januari sampai dengan Desember 2022.
Adapun 5 TPI itu yakni TPI Lohgung, TPI Labuhan, TPI Brondong, TPI Kranji dan TPI Weru, yang berada di garis pantai pesisir Lamongan yang memiliki panjang 47 kilometer. Selain itu, terdapat 3.432 kapal milik masyarakat nelayan Lamongan yang beroperasi.
“Rekapitulasi produksi ikan di 5 TPI se-Lamongan selama tahun 2022 totalnya 79,9 ribu ton, yakni 65 ribu ton dari lokal dan 14,9 ribu ton dari luar daerah (luar PPI). Terbesar di TPI Brondong, dengan jumlah 54,8 ribu ton lokal dan 3,99 ribu ton dari luar PPI,” ujar Bambang, saat dikonfirmasi, Minggu (15/1/2023).
Bambang menjelaskan, kapal-kapal nelayan yang beroperasi di perairan Lamongan ini kebanyakan didominasi oleh kapal di bawah 30 Gross tone (GT), yang menggunakan alat-alat tangkap yang sudah diatur dalam aturan pemerintah.
[berita-terkait number=”3″ tag=”nelayan-lamongan”]
“TPI yang paling besar berada di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong. TPI ini memiliki luas kurang lebih 8 ha, terdapat 25 sampai 30 kapal yang beroperasi setiap harinya, yang mampu melaut 1 hingga 2 minggu,” katanya.
Meski berdasarkan nilai transaksinya sektor perikanan di Lamongan ini tertinggi di Jatim, Bambang menjelaskan, bukan berarti tak ada kendala atau hambatan yang berarti. Salah satunya adalah cuaca buruk di bulan-bulan tertentu yang kerap melanda perairan setempat.
“Nelayan sini biasanya melaut paling jauh bisa sampai utaranya Masalembu. Mata siri. Untuk cuaca buruk ini biasanya paling parah terjadi pada bulan Januari. Hal itu bisa dilihat bahwa produksi di TPI selama tahun 2022 paling rendah di bulan Januari, yakni 3.168 ton, sedangkan paling banyak di bulan November sebesar 11.300 ton,” terangnya.
Bambang menuturkan, selama tahun 2022 ikan hasil tangkapan laut nelayan Lamongan ini tetap stabil. Pasalnya, saat ini sudah ditunjang dengan adanya cool storage di TPI. “Secara keseluruhan, untuk harga rata-rata ikan di sini Rp12 ribu per kilogramnya,” jelasnya.
Penjualan ikan-ikan itu, sambung Bambang, disesuaikan dengan kualitas dari ikan itu sendiri. Untuk ikan yang memiliki kualitas ekspor biasanya dijual ke perusahaan eksportir ikan, sedangkan ikan kualitas lokal biasanya dijual ke pengepul.
Lebih lanjut karena cuaca ekstrem di bulan Januari ini diperkirakan masih cukup mengancam aktivitas melaut para nelayan, Bambang mengimbau kepada para nelayan agar benar-benar memperhatikan keselamatan dan meningkatkan kewaspadaannya.
“Alat keselamatan harus selalu diperhatikan. Nelayan Lamongan saat melakukan penangkapan ikan harus lebih waspada dan segera berlindung ke pulau terdekat jika sewaktu-waktu terjadi gelombang pasang dan angin kencang,” imbaunya. [riq/suf]






