Pamekasan (beritajatim.com) – KH Muhammad Ismail Al-Kholili, menyampaikan keberadaan media sosial (medsos) sebagai sarana penting dalam merealisasikan dakwah, khususnya di era revolusi industri 4.0 seperti saat ini.
Hal tersebut disampaikan saat mengisi materi Ngaji Dakwah Media Sosial; Fenomena Pesantren Salaf vs Dai Instans di Era Keterbukaan Media, pada ajang Pekan Ngaji 8 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Jum’at (13/1/2023).
Bahkan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirun Bangkalan, Madura, juga mengajak kalangan santri agar turun tangan dan berpartisipasi secara langsung dengan cara tampil secara khusus melalui medsos.
“Penggunaan media sosial di Indonesia, sangat banyak dengan angka mencapai jutaan orang pengguna. Termasuk kalangan santri yang juga tidak ketinggalan memiliki akun medsos,” kata KH Muhammad Ismail Al-Kholili.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pekan-ngaji”]
Dari itu, sudah saat saatnya para santri dengan beragam keilmuan yang mempuni agar ikut serta berdakwah dengan orientasi mengajak masyarakat luas agar selalu dekat dengan Sang Khalik, Allah ‘Azza wa Jalla.
“Dengan adanya fenomena seperti saat ini, sudah saatnya dakwah melalui media sosial ini diisi oleh kalangan santri yang betul-betul mempuni dalam bidang keilmuan tertentu, tentunya melalui metode dan media yang berbeda,” ungkapnya.
Kemajuan teknologi informasi di era disrupsi dinilai memunculkan beragam fenomena baru di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk pengguna media sosial dengan julukan Netizen +62 yang terkenal kritis hingga ‘bar-bar’.
“Maka dari itu, kita harus memanfaatkan media sosial ini dengan baik dan bijaksana. Sehingga kita semua bisa merealisasikan dakwah melalui media sosial, seiring dengan keberadaan masyarakat Indonesia, yang memiliki jumlah akun medsos,” jelasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pekan-ngaji”]
Keberadaan medsos tidak hanya terdapat poin positif, sebab juga terdapat poin negatif pada aplikasi yang menggunakan jejaring internet. “Adanya media sosial ini tentu menjadi anugerah mem-viralkan ajaran Allah, sehingga kita harus gunakan sebaik mungkin,” imbuhnya.
“Selama ini kami melihat sedikit sekali alumni pesantren yang menggunakan akun media sosial untuk berdakwah, padahal media sosial merupakan salah satu sarana ampuh dalam berdakwah. Karena itu, ayo kita gunakan media sosial dengan penuh tanggungjawab,” ajaknya.
Dalam kesempatan tersebut, ia mencontohkan sosok Habib Husein Jakfar yang memiliki pengikut di salah satu medsos miliknya hingga angka 5 juta follower. “Husein berani mencoba, makanya jangan takut untuk mencoba dan mulai berdakwah melalui platform media sosial,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga berpesan agar bisa menggunakan medsos dengan bijak. Sebab medsos ibarat sebuah pisah yang memiliki dua sisi berbeda. “Dari itu, kita harus mengunakan media sosial ini sebagai media dakwah,” pungkasnya. [pin/kun]






