Surabaya (beritajatim.com) – Semua anak pasti sesekali berperilaku buruk, sedangkan beberapa anak juga mengembangkan masalah perilaku sementara akibat stres.
Namun, menurut MedlinePlus yang diakses beritajatim pada 8 Januari 2022, mengatakan bahwa perilaku buruk seorang anak dapat mengindikasikan masalah serius apabila perilakunya terlalu buruk, agresif, atau mengganggu.
Indikasi ini semakin menguat apabila perubahan perilaku tersebut berlangsung selama lebih dari 6 bulan. Serta perilaku tersebut muncul tidak sesuai dengan usianya.
Memahami lebih jauh tentang psikologi anak akan membantu orang tua menentukan apakah perilaku anaknya normal atau tidak.
Selain itu, mengawasi masalah perilaku pada anak akan membantu memutuskan kapan orang tua harus mencari bantuan profesional.
Berikut adalah enam masalah perilaku anak yang tidak boleh diabaikan orang tua:
1. Kontrol impuls yang buruk
Balita biasanya impulsif dan sering mengalami masalah dalam mengatur emosinya. Impulsif dapat diartikan sebagai individu yang tidak dapat mengendalikan emosional atau perilaku.
Hal ini sebenarnya normal dan biasa terjadi, tetapi impulsif dan disertai ketidakmampuan untuk mengendalikan amarah pada anak yang berusia 6 tahun ke atas dapat menunjukkan gangguan emosi yang berlawanan.
Sekitar satu dari sepuluh anak diyakini memiliki Oppositional defiant disorder (ODD) yang ditandai dengan kemarahan, mudah marah, amarah, dan ketidaktaatan.
Jika orang tua melihat perilaku ini pada anak, pastikan untuk mencari bantuan dari terapis atau dokter anak. Penyebab ODD bersifat psikologis atau bahkan neurobiologis menurut beberapa penelitian.
2. Kurang perhatian dan hiperaktif
Jika anak menunjukkan masalah yang jelas dengan perhatian, ini bisa mengindikasikan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
ADHD diperkirakan terjadi pada sekitar lima persen anak-anak di dunia. Penyebab gangguan ini kurang dipahami tetapi para peneliti setuju bahwa gangguan tersebut bersifat neurologis.
ADHD ditandai dengan ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatian, masalah dalam mengendalikan perilaku, dan kesulitan bersosialisasi.
Dengan perawatan dini yang mengutamakan pengobatan dan terapi, anak-anak dengan ADHD bisa lebih mudah fokus, mengendalikan impuls mereka, dan ini akan membantu mereka mengembangkan harga diri yang sehat.
[berita-terkait number=”5″ tag=”anak”]
3. Tidak mau menghormati orang lain
Beberapa anak menunjukkan rasa tidak hormat terhadap orang tua mereka, orang dewasa lain, dan teman sebaya. Rasa tidak hormat bisa berarti bahwa anak sedang menegaskan kemandiriannya atau mereka sedang menguji batasan orang lain.
Meskipun bersikap kasar adalah normal bagi seorang anak, orang tua perlu mencegah perilaku tersebut dan bereaksi dengan tepat untuk mencegah perilaku ini menjadi kebiasaan saat sudah dewasa.
Bergantung pada usia anak dan apa yang ingin mereka capai dengan menunjukkan rasa tidak hormat, orang tua dapat melakukan beberapa hal. Misalnya mengabaikan anak tersebut untuk mencegah mereka berperilaku tidak sopan, menghentikannya sejak awal, atau mencontohkan apa itu perilaku hormat. Bagaimanapun, anak-anak belajar paling baik dengan diberi contoh langsung.
4. Merengek berlebihan
Masalah perilaku yang mungkin luput dari perhatian kebanyakan orang tua, terutama pada anak prasekolah, adalah rengekan yang berlebihan.
Meskipun normal bagi anak kecil untuk merengek dan menangis karena frustrasi, beberapa anak menggunakan rengekan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Perilaku ini sebenarnya hasil dari pengondisian karena anak-anak menyadari sejak dini bahwa mereka mendapat perhatian paling besar saat mereka sedang merengek.
Jika orang tua ingin menghentikan rengekan anak, dokter anak Laurel Schultz menyarankan orang tua untuk memperhatikan anak mereka saat dalam kondisi biasa.
Merengek bisa menandakan bahwa anak merasa diabaikan. Tapi jangan terlalu keras pada diri sendiri. Banyak orang tua saat ini berjuang untuk mendapatkan cukup waktu demi memenuhi semua kebutuhan anak-anak mereka.
5. Sering mengamuk
Setiap anak yang sehat akan mengamuk ketika mereka merasa beberapa kebutuhan mereka tidak terpenuhi atau karena kecemasan. Tetapi seringnya mengamuk tanpa alasan bisa menjadi pertanda anak sedang berjuang dengan masalah yang lebih dalam.
Misalnya, autisme ditandai dengan kekakuan dan perilaku repetitif, dan ketika anak merasa terganggu, mereka akan mengamuk pada siapapun. Temper tantrum pada anak usia sekolah bisa mengindikasikan kesulitan belajar, dan kecemasan, bahkan menjadi salah satu tanda depresi.
Jika orang tua merasa amukan anak berlebihan, berkonsultasilah dengan profesional untuk mengetahui akar masalahnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”anak”]
6. Tidak berprestasi di sekolah
Setiap orang tua pasti ingin anaknya berprestasi di sekolah, tetapi terkadang anak kesulitan dalam belajar dan hal ini dapat memengaruhi harga diri mereka dan menyebabkan stres yang berlebihan.
Mengetahui apa itu stres dan konsekuensi dari stres yang tidak terkendali akan membantu orang tua memahami pentingnya parenting pada anak-anak.
Mengetahui akar masalah juga akan membantu menentukan apakah anak memiliki ketidakmampuan belajar. Namun, jika prestasi anak tiba-tiba menurun, ini bisa menjadi tanda bahwa mereka stres, depresi, atau bahkan mungkin dilecehkan.
Curigai kemungkinan apapun jika anak menarik diri, merasa tidak aman, dan menunjukkan perubahan perilaku lainnya.
Sebagian besar anak berperilaku buruk dan menunjukkan masalah perilaku saat mereka melewati fase masa kanak-kanak. Namun, menentukan apa yang normal dan apa yang tidak saat membahas perilaku pada anak bisa jadi sulit.
Sebagai aturan praktis, segala sesuatu yang berlebihan, mengganggu, atau tidak sesuai dengan usia anak dapat menunjukkan suatu masalah.
Jika kamu merasa anak mengalami stres atau menunjukkan tanda-tanda depresi, berkonsultasilah dengan profesional, sehingga dapat membantu menentukan apakah perlu perawatan lebih lanjut. (kai/ian)






