Malang (beritajatim.com) – Salah satu wisata unggulan Kota Malang adalah Kampung Kayutangan Heritage. Namun, kondisinya kini memprihatinkan karena sepi wisatawan yang berkunjung ke dalam perkampungan.
Kebanyakan wisatawan berhenti di sepanjang pedestrian Kayutangan Heritage di selanjang jalan Basuki Rahmat. Daerah ini memang sedang hits di Kota Malang. Kawasan ini disulap bak Malioboronya Kota Malang.
Lampu pernak pernik klasik dipasang di sepanjang pedestrian. Bangku taman dibuat secantik mungkin. Alunan lagu dari para musisi semakin membuat betah wisatawan berkunjung. Sayang, sebagian wisatawan tidak mengetahui bahwa roh Kayutangan Heritage justru ada di dalam perkampungan itu sendiri.

“Libur akhir tahun kemarin mulai ada pengunjung tapi belum signifikan, tetapi liburan sudah selesai ya bisa dilihat sekarang bagaimana kondisinya, paling satu atau tiga orang saja, memang yang ramai itu di atas (kawasan pedestrian), tapi masuk yang ke dalam sini enggak ada,” kata salah satu warga, Rudi Haris (65), Selasa (3/1/2023).
Di dalam area perkampungan, mural bernuansa Kayutangan era kolonial Belanda dengan lampu-lampu kuno. Ada pula, spot foto dengan suasana seperti di teras rumah kuno zaman kolonial. Selain itu, pengunjung bisa berfoto di depan rumah-rumah nuansa era kolonial milik warga.
“Pernah ada anak sekolah dapat tugas sekolah untuk membuat tulisan tentang kampung heritage, dia disalahkan oleh gurunya karena menulis yang di atas, terus wawancara saya. Jadi untuk memperkuat yang di kampung saya mengusulkan untuk menambah lampu-lampu bercorak di dalam seperti lampu di atas (kawasan pedestrian),” ujar Rudi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”wisata-malang”]
Rudi mengusulkan, perlu ada kegiatan khusus yang bisa mengundang wisatawan berkunjung ke dalam area Kampung Kayutangan Heritage. Diantaranya, membuat even seperti festival musik keroncong dan festival jajan jaman dahulu seperti sebelum pandemi Covid-19 melanda.
“Dulu seperti musik keroncong sering main disini. Terus ada festival jajan lawas. Tapi pandemi (Covid-19) tidak boleh ada acara. Saya berharap PPKM ini dicabut mudah-mudahan ada event lagi yang bisa meramaikan kampung heritage,” tandas Rudi. [luc/but]






