Gresik (beritajatim.com)– Young Buddhist Association Indonesia bersama Ecoton menyebarkan ribuan jenis ikan di Sungai Kalimas. Selain melepaskan ikan, mereka juga menggalang dana untuk pembuatan trashboom (alat menangkap sampah di sungai) demi menjaga ekosistem hayati. Hal itu dilakukan untuk melestarikan tradisi Fang Sheng yang merupakan salah satu tradisi agama Buddha.
Koordinator panitia Fang Sheng dari Young Budhhist Association Indonesia William Vijjadhammo menuturkan, ribuan satwa air yang dilepas itu di antaranya ikan gabus, bulus, dan belut. Ribuan satwa yang dilepas ini didapatkan atau dibeli dari pasar ikan, suplier dari berbagai supermarket, dan restoran-restoran yang ada di Kota Surabaya dan sekitarnya.
“Total donasi dari 114 donatur, sehingga berhasil mengumpulkan 42 kilogram ikan gabus, 828,5 kilogram belut, dan 2 ekor bulus,” tuturnya, Minggu (25/12/2022).
Dirinya meyakini melalui tradisi ini, ikan-ikan yang akan disembelih dan dikonsumsi itu sangat menderita. Makanya, dibebaskan ke lingkungan habitatnya. Tujuannya, agar ikan ini bisa melanjutkan hidup, berkembang biak dan memberi banyak manfaat kepada alam.
“Ritual ini dalam agama kami dikenal dengan Fang Sheng, yaitu kegiatan melepaskan satwa yang terancam terbunuh ke alam bebas agar kita sebagai manusia terhindar dari mara bahaya dan mendapatkan kebaikan karena menolong mahkluk yang menderita,” ungkap William.
Selain melakukan ritual Fang Sheng, Young Buddhist Association Indonesia juga menggalang dana untuk pembuatan trashboom atau penghalang sampah di sungai. Tujuannya juga untuk menyelamatkan makhluk hidup yang ada di lautan agar tidak tercemar sampah dan plastik akibat ulah manusia.
Deputi Eksternal dan Kemitraan Ecoton Aziz mengatakan, kegiatan pelepasan makhluk hidup ini merupakan salah satu kegiatan pengembalian satwa dan ikan pada tempat asalnya. Apalagi lokasi pelepasan itu merupakan kawasan suaka ikan kali Surabaya, sebuah kawasan lingkungan yang memperoleh SK Kawasan Suaka Ikan dari Gubernur Jawa Timur karena sebagai tempat bertelurnya dan berkembang biak hewan seperti belut dan bulus. “Tentu kegiatan ini akan membantu menambah ekosistem dan keanekaragaman hayati di kali Surabaya,” katanya.
Ia juga mengaku senang dan bangga karena Young Buddhist Association juga menggalang dana untuk menginisiasi pembuatan trashboom atau trash barrier yang merupakan penjaring sampah yang dipasang pada badan air sungai. Tujuan pemasangan trashboom untuk mengetahui jumlah debit sampah yang masuk ke badan air sungai di suatu kawasan.
“Trashboom juga berguna untuk menangkap sampah sungai agar tidak bocor ke laut. Trashboom ini adalah salah satu teknologi yang membantu pengelolaan sungai. Alat ini juga sangat bermanfaat untuk menganalisis komposisi sampah yang telah masuk ke badan air sungai,” katanya. [dny/kun]






