Surabaya (beritajatim.com) – Ajang bergengsi Piala Dunia 2022 telah berakhir dan melahirkan Argentina sebagai sang juara setelah bertanding melawan Perancis.
Ini artinya, kalian baru bisa menyaksikan laga ini kembali setelah empat tahun mendatang, yakni pada tahun 2026.
Namun, pernahkah terlintas di benak kalian mengapa Piala Dunia hanya dilaksanakan sekali dalam empat tahun? Agar tak penasaran, berikut penjelasan dan sejarah singkatnya!
Turnamen Piala Dunia sendiri pertama kali diadakan pada tahun 1930 di Uruguay. Kala itu hanya ada 13 tim nasional yang berpartisipasi, disebabkan oleh terbatasnya transportasi.
Namun, seiring berjalannya waktu, hampir seluruh slot tim mulai terisi. Hal ini membuat turnamen tersebut menjadi salah satu ajang bergengsi para pemain sepak bola.
[berita-terkait number=”5″ tag=”bola”]
Bahkan, laga ini juga bisa menyatukan berbagai latar belakang, ras dan budaya jika mengingat suporter yang hadir pun hampir dari seluruh penjuru dunia.
Seperti yang kalian ketahui, FIFA memiliki anggota 211 negara di dunia, akan dipilih 32 tim terbaik yang bisa mengikuti turnamen . Sebelum itu, FIFA harus mengadakan kualifikasi berdasarkan zona konfederasi.
Total, ada 5 zona konfederasi yaitu zona UEFA (Eropa), zona CONMEBOL (Amerika Selatan), zona CONCACAF (Amerika Utara), CAF (Afrika), dan zona AFC (Asia), dan zona OFC (Oseania).
Setiap zona pun memiliki jumlah slot yang berbeda, tergantung dari kualitas sepak bola zona tersebut. Meski begitu, tidak setiap saat kelima zona tersebut dapat menyumbang perwakilan. Seperti pada Piala Dunia tahun di mana zona OFC atau Osenia tidak mengirimkan perwakilan.
Proses kualifikasi untuk mencari 32 tim tentu tidaklah sebentar, terlebih ada 211 tim nasional yang terdaftar. Tak heran jika proses tersebut memakan waktu hingga 4 tahun dan pertandingan pun baru bisa dilaksanakan sekali dalam kurun waktu tersebut.
Persiapan tuan rumah
Selain persiapan bagi para pemain, 211 negara tersebut juga berebut kesempatan untuk menjadi tuan rumah. Pasalnya, ada banyak keuntungan ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia. Mulai dari menarik turis asing, pembangunan dipercepat, dan meningkatkan kualitas sepak bola nasional.
Proses pemilihan tuan rumah pun juga dilakukan dari jauh – jauh hari, agar negara yang terpilih bisa mempersiapkan infrastruktur sebaik mungkin. Tidak hanya stadion namun juga penginapan dan sistem transportasi, yang mana semuanya harus sesuai standar yang telah ditentukan FIFA.
Tahun lalu, mantan pelatih Arsenal yaitu Arsene Wenger sempat memberi ide untuk melaksanakan Piala Dunia setiap 2 tahun sekali. Dengan alasan dapat memberikan kesempatan bagi pemain untuk menang dan tentunya meningkatkan kualitas pertandingan.
Usulan tersebut pun disetujui oleh FIFA, hingga mereka mengadakan pertemuan dengan enam konfederasi untuk membahas hal itu. Namun nyatanya lebih banyak pihak yang menentang ide tersebut, seperti klub – klub Eropa dan liga – liga top lainnya. Selain dapat mempengaruhi fisik para pemain, Piala Dunia adalah ajang eksklusif yang tidak boleh diotak – atik dengan mudahnya.
Muncul pula asumsi bahwa apabila kebiasaan 4 tahun sekali diubah lebih singkat, maka hal ini bisa mengurangi antusias penggemar sepak bola yang sudah menanti – nantikan waktu untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Sehingga bisa dibilang turnamen ini adalah tradisi yang sulit untuk diganti. (mnd/nap)






