Jember (beritajatim.com) – Adu penalti bisa jadi akan menentukan dalam fase semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar. Tiga semifinalis yang akan bertanding sudah teruji dalam adu penalti pada babak sebelumnya, yakni Argentina, Kroasia, dan Maroko.
Argentina menyingkirkan Belanda 4-2 di perempat final setelah bermain imbang 2-2 dalam waktu normal plus perpanjangan waktu. Maroko menyingkirkan Spanyol 3-0 di Babak 16 Besar. Sementara Kroasia berturut-turut menang melalui adu penalti di Babak 16 Besar dan perempat final, yakni mengalahkan Jepang 3-1 setelah imbang 1-1, dan Brasil 4-2 setelah bermain imbang 1-1 juga.
Argentina akan menghadapi Kroasia dan Maroko akan menantang Prancis dalam babak semifinal. Fachrudin, pelatih PSM Madiun dan mantan pemain Persebaya Surabaya, melihat adu penalti memunculkan tekanan kuat pada pemain.
“Para pemain tim besar terbebani dengan kebesaran nama timnya, meski sebagian dari mereka belum bisa dikatakan ‘pemain bintang’. Sementara tim-tim medioker saat bisa menahan tim besar dalam ‘open play’ (waktu normal), sudah seperti sebuah kemenangan. Saat babak adu penalti, mereka seperti tidak ada beban,” kata Moch. Fahcrudin, ditulis Selasa (13/12/2022).
[berita-terkait number=”3″ tag=”piala-dunia”]
Fahcrudin mencontohkan Spanyol yang diperkuat sejumlah pemain muda. “Mereka langsung bermain di Piala Dunia. Mereka secara individu belum menjadi bintang betul, tapi nama negara mereka sudah jadi beban,” katanya.
Berbeda dengan Argentina. “Tidak semua pemainnya dikatakan bintang. Tapi mereka sudah lama terbentuk. Apalagi mereka sempat menjadi juara Copa America dan melalui fase sulit,” kata Fachrudin. Ini menyebabkan mental mereka lebih kuat.
Kendati didominasi faktor mental, Fachrudin menilai, berlatih tendangan penalti tetap diperlukan. “Jangankan sekelas turnamen Piala Dunia, kami dulu kalau sudah memasuki babak drama adu penalti, tetap latihan,” kata Fahcrudin.
Hanya mental yang tak bisa dilatih. Namun, menurut Fachrudin, pembenahan mental bisa dilakukan dengan metode berlatih yang baik. “Sepak bola modern mengharuskan dalam latihan, faktor mental. teknik, taktik, dan fisik dikemas jadi satu. Jadi pemain dilatih membiasakan diri untuk menghadapi situasi sesungguhnya dalam pertandingan,” katanya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”qatar”]
“Contoh: dulu latihan terisolasi. Antara latihan fisik, teknik, dan taktik berbeda. Kalau sekarang semua dikemas jadi satu. Di situ ada juga faktor mental mempengaruhi. Contoh ketika ada latihan kecepatan dan power, sekarang dikemas dalam bentuk permainan satu lawan satu, dua lawan dua, dua lawan satu. Jadi selain kecepatan, powernya dapat. Latihan terisolir dilakukan, tapi tidak terpisah,” kata Fachrudin.
Namun Fachrudin mengingatkan, faktor keberuntungan ikut bermain. “Kalau bicara sekelas pemain profesional yang bermain di liga top, seharusnya tidak ada tekanan. Mereka seharusnya sudah terbiasa,” katanya.
Psywar pemain lawan juga harus diwaspadai. “Kita lihat setiap adu penalti ada psywar dari penjaga gawang dan pemain lawan. Itu sudah biasa di sana. Kalau dalam sepak bola kita, ada psywar bisa jadi masalah,” kata Fachrudin. [wir/suf]






