Blitar (beritajatim.com) – Kasus perampokan yang terjadi di rumah dinas Wali Kota Blitar Santoso, Menyita perhatian publik.
Bagaimana tidak rumah Dinas Wali Kota Blitar yang cuma berjarak sekitar 500 meter dari Polres Blitar Kota itu bisa diterobos komplotan maling.
Padahal di bagian depan rumah dinas Wali Kota Blitar terdapat 3 orang anggota Satpol PP yang berjaga. Pada saat malam hari pintu rumah Dinas Wali Kota Blitar ini juga selalu ditutup oleh para penjaga.
Lantas bagaimana bisa para pelaku memasuki rumah Dinas Wali Kota Blitar. Menurut polisi para pelaku menggunakan sebuah mobil ber plat merah saat memasuki pintu utama rumah Dinas.
Mobil plat merah ini pun menjadi tanya. Apakah plat merah yang menempel di mobil para pelaku perampokan tersebut asli atau palsu. Jika asli maka bisa jadi para pelaku perampokan merupakan orang dekat Wali Kota Blitar atau orang yang berada di lingkup pemerintahan.
Lantas, apakah Wali Kota Blitar Santoso memiliki musuh selama berada di lingkup Pemerintahan Kota Blitar. Santoso sendiri merupakan birokrat yang memulai karir politiknya dari bawah.
Santoso yang lahir pada 16 Januari 1961 ini pernah menjadi seorang guru DPK SMEA Angkatan 45 pada tahun 1993. Ia kemudian terus menitih karir politiknya hingga menjadi Sekretaris DPRD Kota Blitar tahun 2005, ketika itu ketua DPRD Kota Blitar dipimpin oleh Samanhudi Anwar.
Keduanya terlihat kompak dan serasi. Kekompakan antara Santoso dan Samanhudi Anwar pun terus berlanjut. Hingga ia dipilih Samanhudi Anwar untuk mendampingi dirinya maju menjadi Wali Kota Blitar.
Kekompakan Samanhudi Anwar dan Santoso pun mampu memenangi pilkada Kota Blitar tahun 2015. Keduanya kemudian bersama-sama menjalankan program yang telah diusungnya. Belum genap 5 tahun menjalankan program kerja bersama, Samanhudi Anwar yang merupakan Wali Kota Blitar saat itu justru kesandung kasus korupsi.
Hingga Akhirnya Wakil Wali Kota Blitar Santoso diangkat menjadi pelaksana tugas Wali Kota Blitar periode 2019 hingga 2020. Setelah habis masa jabatan sebagai PLT Wali Kota Blitar, Santoso pun mencalonkan diri sebagai Calon Wali Kota Blitar di Pemilu tahun 2020.
[berita-terkait number=”3″ tag=”samanhudi-anwar”]
Dari situlah keharmonisan dan kekompakan antara Samanhudi Anwar dengan Santoso berakhir. Samanhudi Anwar yang saat itu masih di dalam penjara untuk menghabiskan masa tahanan korupsinya mendorong anaknya Henry Pradipta Anwar untuk maju sebagai pesaing Santoso.
Keharmonisan antara Santoso dengan Samanhudi Anwar pun lenyap seketika dan berubah menjadi permusuhan demi memenangkan kontestasi politik pada pemilu tahun 2020 lalu. Pada pemilu tahun 2020 itu Santoso keluar sebagai pemenang dan mengalahkan Putra dari Samanhudi Anwar yakni Henry Pradipta Anwar.
Dari situlah aroma permusuhan antara kedua semakin menguat hingga sekarang. Namun apakah mungkin semua itu berkaitan dengan kasus perampokan. Nampaknya hal itu masih jauh keterkaitannya dengan kasus perampokan di Rumah Dinas Wali Kota Blitar Santoso.
Pasalnya meski antara Samanhudi Anwar dan Santoso saling tidak harmonis namun selama ini belum ada konflik atau bahkan kontak fisik yang terjadi antara ke duanya.

Para pelaku perampokan di rumah Dinas Wali Kota Blitar juga terlihat sudah menguasai lokasi kejadian. Pelaku terlihat seperti sudah mengetahui lokasi ruangan kamar yang digunakan oleh Wali Kota Blitar untuk beristirahat.
Para pelakunya juga memanfaatkan sepinya situasi jalan pada waktu dini hari di rumah dinas Wali Kota Blitar untuk beraksi. Apakah para pelaku merupakan orang dalam, dugaan itu pun muncul.
Namun polisi belum mau memberikan statement mengenai kemungkinan tersebut. Lantas apakah perampokan di rumah Dinas Wali Kota Blitar ini bermotif dendam. Dugaan itupun masih harus diselidiki lebih lanjut dan dibuktikan kebenarannya.
Selama ini Wali Kota Blitar juga tidak pernah terdengar kabar ada konflik dengan bawahannya atau pejabat pemangku kebijakan yang lain. Wali Kota Blitar Santoso terkenal sebagai orang ramah dan minim konflik dengan pejabat yang lain.
Lantas apa sebetulnya yang menjadi latar belakangi perampokan di rumah dinas Wali Kota Blitar ini, yang jelas polisi saat ini tengah memburu para pelaku yang tertangkap kamera CCTV, dan berjumlah lebih dari 3 orang.
Pihak kepolisian pun belum mau untuk menduga duga terkait latarbelakang dari peristiwa perampokan di rumah Dinas Wali Kota Blitar Santoso. Pihaknya kini masih terus melakukan penyelidikan dan pengumpulan barang bukti di lokasi kejadian.
[berita-terkait number=”4″ tag=”wali-kota-blitar-dirampok”]
Selain latarbelakang perampokan, publik dan masyarakat Blitar juga penasaran dengan jumlah uang dan perhiasan milik Santoso yang dibawa kabur oleh pelaku. Polisi menyebut total uang dan perhiasan yang dibawa kabur oleh para pelaku nilainya mencapai 400 juta rupiah.
Publik pun banyak yang bertanya uang tersebut didapatkan Wali Kota Blitar dari mana. Pasalnya gaji pokok seorang Wali Kota hanya 2,1 juta rupiah per bulan. Sejumlah dugaan pun muncul ke ruang publik. Masyarakat banyak yang bertanya apakah mungkin seorang Wali Kota Blitar dengan gaji pokok 2,1 juta rupiah bisa memiliki uang tunai dan perhiasan senilai 400 juta rupiah
Meski demikian belum ada kepastian mengenai uang tersebut dari mana asalnya dan akan dikemanakan oleh Wali Kota Blitar Santoso.
Semua kemungkinan tersebut akan terbayar jika para pelaku perampokan bisa ditangkap oleh Ditreskrimum Polda Jatim dan Satreskrim Polres Blitar Kota.(owi/ted)






