Lamongan (beritajatim.com) – Desa Sekaran, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, bersama Universitas Islam Lamongan (Unisla) melakukan inovasi teknologi pengolahan sampah terintegrasi dengan memanfaatkan maggot. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penumpukan sampah organik yang ada di TPS 3R desa setempat.
Seiring berjalannya waktu, usaha itu kini berbuah manis. Selain mampu mengurangi sampah organik hingga 4 ton per tahun, lokasi pembudidayaan itu pun sekarang dijadikan sebagai Wisata Edukasi Maggot (Semaggot) Bumdes Sekar Sejahtera.
“Untuk mengurangi penumpukan sampah organik yang ada di TPS 3R Desa Sekaran Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan, kami berinovasi mengolah sampah dengan maggot. Terbukti bahwa sampah bisa berkurang 2-4 ton per tahunnya,” ujar Ketua Matching Fund Unisla, Mufid Dahlan, Minggu (11/12/2022).
Mufid menjelaskan, maggot merupakan larva lalat jenis Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens yang diperoleh dari proses biokonversi Palm Kernel Meal. Sedangkan Biokonversi adalah hasil fermentasi sampah–sampah organik yang menjadi sumber energi metan yang melibatkan organisme hidup.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-lamongan”]
Lalu terkait langkah-langkah dalam membudidayakannya, tutur Mufid, dimulai dari meletakkan bibit maggot yang disebut pre-pupa di dalam ruangan perkembangbiakan selama 14 hari, yang kemudian pre-pupa akan berubah menjadi BSF.
Setelah itu, imbuh Mufid, barulah lalat BSF betina akan menghasilkan telur pada media kayu yang ditumpuk, selanjutnya lalat-lalat itu akan mati. “Ini bukan lalat hijau, jadi lalat ini hanya hidup 7 hari saja, setelah bertelur dia mati. Bertelurnya pun di media kayu yang sudah ditumpuk, bukan makanan ataupun kotoran. Sehingga kasus penyakit lebih aman,” jelasnya.
Masih kata Mufid, telur-telur lalat BSF tersebut akan ditimbang untuk kemudian dipindahkan ke media dedak dan ditetaskan dalam waktu 4 sampai 5 hari. Setelah telur-telur menetas, lalu dipindahkan ke kotak biopond yang medianya berupa sampah organik basah selama 15 hari, agar maggot bisa dipanen.
Lebih lanjut, Mufid menyampaikan bahwa selain menghasilkan pakan alternatif bagi unggas dan ikan, di tempat ini juga mampu menghasilkan produk pupuk organik yang selama ini masih didistribusikan ke petani bawang di wilayah Sekaran. Pasalnya, kandungan pupuk masih dalam proses uji laboratorium. “Meski masih uji lab, prakteknya tanaman yang diberi pupuk organik ini daunnya lebat dan lebih segar, serta lebih tahan terhadap hama,” terangnya.
Tak cukup itu, menurut Mufid, sarana prasarana Wahana Edukasi Maggot Sekaran ini tergolong lengkap. Selain membudidayakan maggot untuk dijual sebagai pakan ternak, para pengunjung juga akan belajar cara mengolah sampah organik dari proses budidaya unggas dan ikan.
“Kami membudidayakan ayam kampung, dari ayam itu kami menjual telurnya. Jadi menambah nilai ekonomi. Termasuk kotoran ayam tersebut tidak dibawa kemana-mana, kami selesaikan dengan maggot sampai menjadi pupuk organik. Sehingga sering dikunjungi para pelajar untuk belajar mengolah sampah,” bebernya.
Menanggapi Wisata Edukasi Maggot Bumdes Sekar Sejahtera yang telah berdiri tahun 2021 tersebut, Bupati Lamongan yang berkesempatan untuk meresmikannya berharap, budidaya maggot ini tak hanya mampu mengurangi sampah organik, melainkan juga bisa menjadi subsitusi pakan ternak hingga pupuk organik.
“Alternatif pakan ini bisa menjadi subsitusi atau mengurangi pakan yang lain. Gampangnya, dengan pakan ini bisa lebih cepat kenyang dan cepet besar. Apalagi banyak peternak lele gulung tikar karena pakannya. Kalau maggot ini bisa jadi alternatif, maka hal ini bisa dikembangkan,” harapnya.
Lebih jauh, Bupati Yuhronur juga mengapresiasi atas terwujudnya Wahana Edukasi Maggot ini. Ke depan, orang nomor satu di Lamongan ini optimis jika ekonomi hijau (green ekonomic) bisa terus berkembang dan berjalan dengan baik. “Ayo terus dikembangkan supaya memberikan kemanfaatan yang luas. Karena ini solusi baik bagi peternak ayam, lele bahkan petani sayuran juga,” tutupnya.[riq/kun]






