Ngawi (beritajatim.com) – Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyatakan jika nantinya unit pelaksana teknis (UPT) Wisata Terpadu di bawah Dinas Pariwisata Ngawi. Hal itu diungkapkan Ony usai menggelar focus group discussion (FGD) dengan sejumlah stakeholder terkait pemanfaatan Benteng Pendem Ngawi yang kini sudah selesai direvitalisasi.
Ony mengungkapkan jika sebelumnya sudah berkoordinasi dengan pihak kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif (Menparekraf) dan kementerian pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) untuk berkoordinasi untuk pemanfaatan benteng yang dibangun era kolonial Belanda itu. Utamanya, OPD yang bakal mengelola hingga akhirnya disarankan jika UPT Wisata Terpadu untuk mengelola bangunan yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan/Kabupaten Ngawi itu.
[berita-terkait number=”5″ tag=”benteng-pendem”]
“UPT Wisata Terpadu ini untuk mengelola Benteng Pendem. Nantinya, diharapkan nanti UPT ini tidak.sekadar UPT tapi lebih besar lagi dan bisa jadi badan layanan usaha daerah (BLUD),” kata Bupati Ngawi Ony, Minggu (12/12/2022).
Dalam FGD itu diharapkan agar Benteng Pendem bisa menjadi ikon Ngawi dan Jawa Timur. Semua stakeholder seperti pelaku usaha hotel, restoran, serta seniman yang nantinya bisa mendapatkan multiple effect dari Pemanfaatan Benteng Pendem.
“Kami juga ikut mempersiapkan masyarakat agar ketika nanti Benteng Pendem sudah diresmikan masyarakat siap menerima kehadiran Benteng Pendem,” katanya.
Terkait perihal aset, seluruhnya sudah menjadi kekuasaan Pemkab Ngawi dari sebelumnya merupakan lahan aset milik Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 12. Terakhir, sudah disepakati jika sudah tak ada lagi kegiatan militer di kawasan Benteng Pendem. Seluruh kegiatan militer dialihkan seluruhnya di Markas baru di Siliwangi dan Taman Candi Ngawi yang sudah dihibahkan Pemkab Ngawi kepada Yon Armed 12.
Diketahui, Kementerian PUPR telah menyelesaikan pekerjaan rehabilitasi bangunan di Kawasan Pusaka Benteng Van den Bosch atau biasa disebut Benteng Pendem. Penataan telah dimulai pada tahun 2020 dan saat ini pekerjaan telah rampung 100%, sehingga siap diresmikan sebagai destinasi wisata edukasi dan landmark kawasan heritage di Kab. Ngawi, Jawa Timur.
Rehabilitasi kawasan wisata edukasi sejarah seluas 5,4 ha tersebut mengadopsi Adaptive Reuse Concept, yakni mengembalikan fungsi bangunan cagar budaya dengan fungsi baru serta seminimal mungkin mengubah bentuk bangunan lama dengan tetap menjaga nilai kultural. Total nilai rehabilitasinya mencapai Rp125 miliar. (fiq/kun)






