Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyah (NWDI) TGB HM Zainul Majdi menyebut bahwa agama menjadi yang kerap dizalimi, khususnya menjelang kontestasi politik. Menurutnya, nilai-nilai kemuliaan agama tak sepatutnya dipakai untuk kepentingan mendapatkan kekuasaan. Artinya, tidak diperbolehkan bagi siapapun mereduksi kemuliaan agama pada kontestasi politik.
“Agama itu paling sering dizalimi, khususnya menjelang kontestasi politik. Didzalimi dalam arti dimanfaatkan, dipakai namanya untuk satu tujuan yang sifatnya sangat jangka pendek,” ujar TGB di sela Diskusi Ilmiah bertajuk ‘Menggali Mutiara Para Bijak Bestari Untuk Memperkokoh Persatuan Bangsa’ di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Senin (5/12/2022).
Ia menjelaskan, kemuliaan agama itu melingkupi seluruh bangsa. Nilai-nilai mulianya harus dibawa, dan tidak untuk kepentingan mendapatkan kekuasaan. “Mengklaim bahwa inilah yang paling agamis, inilah representasi dari agama A, agama B. Padahal, tidak boleh kita mereduksi kemuliaan agama hanya pada kontestasi-kontestasi politik,” jelasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”tuan-guru-bajang”]
Di kesempatan sama, TGB juga menyampaikan bahwa kesadaran akan keberagamaan adalah sesuatu yang sudah fitri dalam manusia, khususnya di Indonesia. Namun perlu digarisbawahi, bahwa sesuatu yang sudah ada bukan berarti tidak perlu dijaga.
“Karena itu, upaya-upaya seperti yang dilaksanakan rumah bhineka ini sengaja membuat perjumpaan antar anak bangsa yang berbeda-beda dari beragam komponen untuk bicara tentang persatuan, kerukunan, kebersamaan. Menurut saya perlu kita perbanyak, itu memang kebutuhan bangsa kita,” ujarnya.
Selanjutnya, dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia juga bakal menghadapi agenda-agenda demokrasi. Di situ, rentan terjadi perbedaan pilihan dan pandangan, sehingga persaudaraan yang terjalin bisa saja menjadi rusak.
Mengantisipasi itu, TGB menyebut bahwa perlu adanya memperbanyak perjumpaan. Tak sekedar perjumpaan saja, namun juga diisi dengan banyak perspektif. “Intinya adalah kita sama-sama menjaga, berusaha menghadirkan persaudaraan yang bukan dibuat-buat dan sementara, tapi karena sadar bahwa kita ini memang harus menjaga persaudaraan,” urainya. [ipl/suf]






